AFEKSI MODERN: DANSA DANSI PAK FRANS

1
367
dilihat

Setelah Pidato Pak Frans tentang ‘Hak Wanita di Era Dansa Gila-Gilaan dan Musik ngak-ngik-ngok’ selesai, meledaklah tepuk tangan dan suit-suitan para penonton yang sebenarnya dari tadi lebih sibuk merekam daripada mendengarkan. Tak berapa lama, penonton sibuk menggeser kursi ke pinggir dan mengosongkan area tengah gedung pertemuan. Tiba-tiba seorang berpakaian burung Garuda Indonesia muncul dari sisi kanan panggung, dia mulai melawak tentang nasionalisme layaknya Jon Stewart. Bahasanya campur-campur.

Sekarang kita mulai acara non-formal, “Insya Allah we will start in no time.”, katanya.

Acara pesta-pesta ‘rileks’ ini memang sudah biasa menjadi acara puncak non-formal sebagai lambang keseimbangan kerohanian dan keduniawian. Ruangan dibikin samar-samar gelap menambah kemantapan suasana romantika dan keliaran nafsu. Simpangsiur pasangan melakukan dansa dansi, ada yang sambil berdekapan ada juga yang bergoyang-goyang sendiri. Kalau memperhatikan liukan pantatnya, para penonton ini seperti pernah mengambil les menari Bali. Suasana semakin hangat mengingat penonoton datang dengan baju ceroboh yang memperlihatkan buah dada dan celana jeans robek di dengkul dan paha. Pak Frans selaku pembicara dan panitia memang pandai mengemas suguhan hiburan.

Pak Frans termasuk angkatan establishment, kaya raya dan brilian, walaupun senang pesta tapi dia sekarang sedang berusaha menamatkan program doktor.  Hal itu terlihat dari penonton yang hadir, bukan cuma kaum borjuis, ada juga yang bertitel doktor dan tidak sedikit kaum londo yang memenuhi ruangan. Pak Frans pintar memilih orang-orang dari kaum-kaum ‘the grand elite’ untuk memuaskan gengsi kaum yang masih tebal mental feodalnya. Mental yang terus diwarisi dan belum banyak berubah corak dari zaman baheula hingga zaman online shopping. Di sudut lantai dansa, Pak Frans tidak sengaja bertemu pandang dengan perempuan yang Pak Frans sendiri tidak tahu dia Indo atau Indo-Eropa. Wajar sebenarnya banyak perempuan Indo-Eropa di negara itu mengingat perbaikan keturunan digadang-gadang di permainan syahwat era ini. Lekra, nama perempuan itu. Tipe perempuan yang makin ditatap makin menawan hati.

Mungkin Pak Frans pintar berpidato tapi dia tidak pintar bercumbu dengan kata-kata.

Busyet.”, kata Lekra saat Pak Frans coba menggodanya dengan sedikit kelakar ala-ala enggres. Mereka melangkah melewati pasangan tidak sah yang sedang berdansa untuk kemudian duduk-duduk di tempat sepi untuk ngobrol asyik-masyuk.

“Aku bingung kenapa pasangan tidak sah itu bebas saling berdekapan sambil dansa dansi ya?”, kata Pak Frans.

“Maksud tidak sah itu apa Pak Frans?” tanya Lekra.

“Tidak sah itu sesuatu yang dilakukan di luar norma dan peraturan formal.”

Lekra hanya tertawa sambil berkata, “Tidak sah itu semua yang melanggar dan mengurangi kebebasan individu. Orang dapat mengikuti nafsi-nafsi nya sebagai individu bebas.”

Pak Frans lupa kalau zaman kumpeni dulu ada sebutan nyai-nyai yang hidup saling mencintai tanpa ikatan pernikahan dengan lelaki Eropa dan Cina tanpa perlu dikutuk oleh masyarakat umum yang mungkin terlihat toleran. Pak Frans mulai berpikir mengenai sikap kebebasan individual yang dianut Lekra dapat memberikan dampak logis dalam memandang sikap afeksi lelaki. Pak Frans memang ambivalent karena dia selalu percaya dengan kesetiaan Sita dalam epik cerita Rama-Sita yang tendensius.

Ide-ide kesetiaan itu ditolak oleh Lekra yang memang kaum hippie-hippie elektronik. Lekra menilai ‘Quo Vadis’ peradaban modern membentuknya menjadi kaum yang memandang hubungan afeksi antara lelaki dan perempuan adalah biasa dan tendensinya sering gagal. S

“Siapa yang mau tahan lama dan rela berkorban demi pasangannya kalau kalau indehoy dengan pasangan orang lain semakin mudah dan rasanya seperti geli-geli di bibir layaknya ciuman ala Socialist Fraternal. Siapa yang butuh afeksi kalau cuma excitement dan adrenalin yang diperlukan. Siapa yang mau hidupnya membosankan, kalau perlu ganti pasangan baru alih-alih yang lama sudah tidak sanggup menyuntikan adrenalin. Kami sebagai pemuja gratifikasi instan yang tidak punya kesabaran dan malas memupuk. Kami yang mengejar pencapaian diri setinggi-tingginya tanpa menyisakan ruang untuk keindahan afeksi. Kami yang percaya bahwa pilihan selalu ada dan tidak mau bersabar karena percaya di luar sana pasti ada yang lebih baik lagi menanti untuk dipertemukan oleh semesta. Kami yang takut untuk memilih dan hidup dengan pilihannya karena berkaca pada pencapaian orang lain.”

            Pak Frans si ambivalen penggemar dansa dansi namun pendamba nilai kesetiaan terkejut mendengar gagasan Lekra. Pak Frans tidak menyangka hanya sebatas itu Lekra memandang signifikansi lelaki dalam hidupnya.

“Wah kacau.”, pikir Pak Frans. Dia tampak termenung, tapi pikirnya, “Benar juga! Masa mimpi mau diwujudkan dengan afeksi?”, dia teringat sinetron yang dikit-dikit ngomong “Makan tuh Cinta!”.

Lamunan Pak Frans akhirnya diganggu oleh tangan Lekra. “Tenang Pak Frans, di era hegemoni rezim yang tidak langgeng ini, mungkin masih ada akal sehat yang tidak artifisial.”, kata Lekra.

Pak Frans tidak mendengar dengan jelas kata-kata barusan karena sudah terkena mejik dari lotion yang menempel di tangan Lekra. “Brengsek! tepat juga ide serampangan generasi hippie-hippie elektronik ini, gimana bisa aku menyia-nyiakan perempuan bak Grace Kelly dan memilih setia dengan perempuan di rumah yang lengannya sebesar pahaku.”, pikir Pak Frans.

“Purbasangka dan pengucilan sudah pasti bukan bagianku kalau-kalau hari ini aku berhasil mengajak Lekra beradu syahwat. Aku yakin Lekra juga tidak merasa keberatan karena mungkin si Anu, si Anu dan si Anu semuanya pernah melakukan hal yang sama seperti yang akan kulakukan. Kan sudah modern, maju, cerah, artifisial.

Semua pikiran itu menjustifikasi keputusan yang akan diambil oleh Pak Frans. Tanpa pikir panjang dia langsung berdiri, menghadapkan mukanya ke Lekra dan memoncongkan bibirnya. Tak sempat Pak Frans merasakan bibir dan lidah Lekra, keburu Lekra berdiri menjauh sampai-sampai Pak Frans hampir terjatuh. Pemikiran intiuitif penuh kecerdasan yang dipakai oleh Pak Frans untuk mengekskalasi proses perkenalan menjadi syahwat berujung pada tuna pengertian. Rindunya untuk berdekapan dan mencium parfume cewek Indo-Eropa itu yang selama percakapan disambut rayuan ramah Lekra ternyata cuma asumsi. Pak Frans pikir kaum hippie-hippie elektronik ini dengan mudah didapatkan tanpa banyak cingcong. Memang Tuhan Maha Pemurah tapi untuk yang satu ini beda cerita. Ambruk harapan Pak Frans.

Buru-buru Lekra menyalakan sigaret dan menghisapnya dengan cepat-cepat. Pak Frans, affluent society ini tidak membuat saya dengan mudah memberikan seoles bibirku tanpa sense of belonging. Aku masih memegang teguh self-respect, karena apa arti kebebasan tanpa self-respect, kata Lekra. Pak Frans, langsung menenggak Tennessee Whiskey nya dan melenggang ke dalam ruangan dansa dansi. Dasar asu! Plintat plintut!  Dasar kalian generasi hipokrit-hipokrit dan double standard, pikir Pak Frans dengan marah dalam hati. Dengan lapang hati, Pak Frans kembali berdansa dansi dengan dipadu lagu Modern Love-David Bowie sambil berharap ada gerombolan sweetheart yang vulnerable.

Hey night thief, this feeling is not artificial

1 KOMENTAR

  1. Lucu dengan sedikit gurauan cerdas, kata-katanya memakai istilah-istilah yang kalau di Indonesia disebut “Bahasa orang pintar.” yang engga ngerti cuma bales “Aku ora mudeng, bahasamu ketinggian, ha..ha..ha..” Pak Frans sedikit munafik juga, tapi untungnya Tuhan baik sekali. lebih tepatnya alur yang dibuat si penulis hihihi, Lekra nya ‘engga mau’ untungnya engga jadi buat catatan cacat dalam hidup.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama