Belajar Kehidupan dari Tujuh Jam

0
281
dilihat

Oleh: Insani Ursha Jannati (@insaugram)

“Tapi banyak yang bisa kita lihat ke belakang betapa beruntungnya kita dilahirkan.”

“Karena kita tidak bisa melihat bagaimana bila kita tidak pernah dilahirkan.”

“Dengan kata lain?”

“Tidak ada kata lain. Aku tidak ingin berkata-kata.”

“Tapi ini yang terakhir, aku janji.“

“Tidak ada tapi. Aku sudah bilang kan tidak ada kata lain.”

“Tapi—“

“Diamlah.”

Aku rasa aku mulai belajar kehidupan dari tujuh jam perjalanan. Dia meninggalkanku lagi dalam dinginnya. Meninggalkanku dari pupil-pupil matanya. Kami begitu dekat namun begitu jauh. Lutut kami bersentuhan namun cara pikir kami terpencar. Semakin dia meninggalkanku, semakin aku pandangi lekat. Sapuan pandangnya tak mengarah, tak terarah. Dia terus menyandarkan bahunya di tepian jendela dan tak peduli air melinangi mata. Dia patung berperasaan dalam.

Dua jam lalu di gerbong seluas itu aku masih sendirian. Hingga speaker mengumumkan kami sudah menginjak stasiun Wonokromo barulah aku berkawan. Satu per satu aku terima tatapan “permisi, Mas” mereka dengan cengar-cengir yang berguna sebagai pemecah kekikukan. Tapi satu. Satu gadis yang bahkan dengan sembrononya menginjak jempol kakiku tetap saja tak bersuara, melempar senyum pun tidak. Tak masalah bila dia angkuh padaku. Asal jangan pada jempol kakiku. “Perempuan sialan,” pikirku. “Perempuan menarik,” pikirku juga … dua jam berikutnya. Wahai, sang Tuhan Maha pembolak-balik perasaan.

Tepat setelah dia memecah keheningan itulah pemikiranku muncul. Sebuah pertanyaan yang asing dari orang asing: Bila matimu bisa kamu pilih, mati yang bagaimana yang akan kamu pilih?

Jawaban pertamaku hanya, “Ha …?” Dan keheningan yang panjang. Amat panjang. Dan mulut menganga dan alis kiri terangkat dan imajinasi-imajinasi baru, dan-dan lainnya. Cerdas. Sukses membuat jempolku cenutan, kini otakku target berikutnya.

“Jawab saja,” masih dingin.

“Kita bahkan tidak saling kenal.” Hah. Ada kelegaan tersendiri akhirnya aku tampar perempuan sialan—yang sayangnya juga menarik ini—dengan satu kalimat pamungkasku.

“Maaf. Aku yang salah karena itu pertanyaan mendalam. Maaf.”

Lalu keheningan panjang kembali ke persemayaman. Kini aku yang merasa salah.

Masih hening.

Kali ini aku tidak tahu berapa menit persisnya keheningan ini terjadi. Yang jelas tolong

pahamilah suasana gerbong kereta dengan keberangkatan Subuh pada hari kerja dan bulan

tanpa warna merah kecuali tiap Minggunya. Ya, maksudku ini bukan bulan Ramadan ataupun

bulan-bulan akhir tahun di mana nafsu para manusia untuk menikmati liburan meningkat. Ini

bulan Maret yang membuatku merasa seperti romusha. Hingga aku harus rela potong gaji demi

otak yang lebih jernih lagi. Namun sayang-sayang, di gerbong yang sepi aku malah bertemu

perempuan satu ini.

“Aku ingin mati di atas tempat tidurku dan ditemani cucu-cucu manisku.”

Sejurus dia menoleh. Membenarkan posisi punggungnya dan meminum satu tegukan dari

Club-nya. “Apa tidak apa-apa?”

Aku hanya melemparkan respon tanya dalam mata.

“Apa tidak apa-apa orang asing mengetahui hal terdalammu?”

Sebelum aku menanggapi pertanyaannya, biarkan aku menanggapi diksi-diksinya.

Entahlah. Dia menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tapi entah kenapa aku

justru sedikit … nggg … karena terlalu baik dan benar mungkin. Ah, sudahlah.

“Justru karena kamu orang asing jadi ku tak peduli.” Dan sekarang aku mulai ditarik ke

arus tata bahasanya.

“Kamu benar. Tapi kamu manusia dasar.”

“Manusia dasar?” Diksi apa lagi ini.

“Pemikiranmu sama persis dengan pemikiran satu milyar bahkan enam milyar manusia

di luar sana. Jawaban dasar. Tak menarik.” Sialan.

“Aku berhak menjawab tapi kamu tidak berhak mencaci jawabanku.”

“Hei, aku tidak mencaci.”

“Bukan salahku kalau aku anggap kamu mencaci. Salah caramu.”

“Oh, maafkan. Aku minta maaf.” Sungguh. Perbincangan ini semakin mengalir namun

juga semakin kaku. Perempuan yang baru dua jam di hadapanku sudah mengoyak-oyak rongga

perutku sedemikian rupa. Tatapan matanya yang menusuk namun tak terarah itu.

“Aku ingin mati.” Dia membuka pembicaraan yang baru dia tutup sendiri.

“Tidak usah ingin, tidak ingin pun kita semua bakal mati.”

“Tapi aku ingin tentukan sendiri matiku.”

“Tuhan, apakah yang di hadapanku ini Tuhan? Oh wow.” Kali ini sama-sama aku lempar

pandangan ke seberang jendela.

“Justru karena aku bukan Tuhan aku ingin mati dalam keindahan Tuhan. Dari atas tebing,

melompatkan tubuhku di derasnya lautan. Samudera bila perlu. Lalu mati sesak karena air asin.

Dan tenggelam selayaknya terumbu karang. Aku benar-benar ingin memilih matiku sendiri.”

“Apa enaknya air asin?”

Tatapannya langsung tajam. Tepat menusuk tatapanku. “Imajinasiku seindah itu kamu

malah fokus ke air asin? Hei.”

Aku hanya cengengesan menololkan diriku sendiri. Benar juga. Kenapa aku justru

menanyakan air asinnya daripada imajinasi liarnya?

“Mengerikan. Tidak indah,” cepat-cepat aku lanjutkan.

“Kehidupanlah yang jauh lebih mengerikan.”

“Aku bolos kerja untuk menikmati perjalanan kereta ini dan liburanku nantinya.”

“Aku tidak tanya.”

“Aku juga tidak tanya kamu ingin mati seperti apa. Impas. Satu-satu.”

“Sebenarnya mendengar tanggapanmu bisa diasumsikan kamu menarik. Tapi kenapa

kematianmu mendasar. Hahaha.” Paling tidak sekarang aku tahu bagaimana dia tersenyum.

“Itu bukan mendasar. Itu caraku menikmati hidup.”

“Apa itu hidup? Kadang aku sedih bila aku tidak bisa menjabarkan arti hidupku.

Bagaimana aku tersadar aku sudah hidup sebercanda ini. Bagaimana aku tak berarti. Dan

bagaimana-bagaimana seribu satu lainnya. Bila aku tak bisa memilih di mana aku hidup,

biarkan aku memilih di mana aku mati ….”

“Sedang banyak masalah ya?” Pertanyaanku bebarengan dengan kata terakhirnya yang

diiringi nada menurun. Tidak ada yang salah dengan apa yang dia utarakan. Tidak salah pula

bila aku menjulukinya perempuan menarik. Perempuan-perempuan pemikir selalu mampu

menarikku ke dalamnya. Titik retinanya yang tidak pernah terarah itu kini mulai dia arahkan

padaku. Ada perasaan tak terjelaskan di sini, tepat di balik tulang dadaku. Jaket tebal yang

sudah aku kenakan pun tak mempan menghalangi dingin yang tiba-tiba. Sedingin satu tetes

dari matanya.

“Mungkin akan aku syukuri hidup bila masalah hanya sebatas ‘sedang berlangsung’, tapi

lain halnya bila itu ‘tidak pernah berakhir’ kan?”

“Ceritakan saja. Dalam beberapa jam ke depan kita tak akan pernah bertatap lagi.

Selamanya.”

“Aku bingung harus memulai dari mana.”

Hening yang sempat hilang kini datang lagi.

“Kenapa mereka tidak terima perbedaan?” Entah pertanyaan butuh jawaban atau

bagaimana, aku hanya mendengarkannya seksama. “Kenapa kita mencoba mengerti, kerap

mengasihi, senantiasa memperbaiki diri, tapi mereka tak pernah paham bila kita sedang

memahami mereka? Kenapa kita tak kuasa menuntut di bawah banyaknya tuntutan terhadap

kita? Kenapa tidak ditanamkan satu pemikiran dasar ‘berbuat manis lah, kamu tidak tahu beban

lawan bicaramu seberapa beratnya’ di diri mereka? Kenapa bila tidak mampu mengurangi

paling tidak jangan menambahi? Kenapa?”

Dan kenapa aku ikut meneteskan air mata?

“Andai semua manusia mau diajak kerja sama untuk berpikir ‘manusia lain berbuat dosa

yang kita tidak perbuat’, andai kita semua paham kita semua berdosa hanya jenisnya berbeda.

Andai ….”

Dan andai aku tidak pernah bertemu perempuan ini.

Aku biarkan percakapan ini satu arah. Dia dan dia. Atau sebut saja dua arah, suaranya

dan pendengaranku. Aku sedang tidak ingin apa-apa lagi kecuali hanya menunggu kalimat

selanjutnya. Tapi yang kudapati hanya tetesan-tetesan itu lagi.

“Ceritakan saja semuanya.”

Tak ada tanggapan. Aku angkat kakiku pelan-pelan, memberinya ruang. Aku berjalan ke

arah dapur dan membidik satu kursi di sisi jendela. Aku biarkan dia sendiri di sana. Biar terus

menangis, biar dia dan lamunannya, aku dan sudut baruku.

Lalu aku terhisap kesenyapan ….

“Mas, mas? Ini sudah stasiun terakhir.”

Aku bangun gelagapan. Mengusap-usap semua sisi wajahku dan tamparan kecil agar

otakku tak lagi mengambang. “Eh? Hehehe maaf, Mas, astaga keenakan saya di sini. Maaf

banget ya, Mas, makasih loh sudah dibangunin.” Sambil berjalan cepat aku kembali ke gerbong

asliku. Tidak ada yang aku tinggal sejak awal memang, kecuali perempuan itu.

Nihil.

Dia sudah pergi dari sana. Atau justru sudah pergi dari lama. Untuk detik terakhir, aku

coba duduk lagi di kursi yang sama, mencoba menarik lagi ingatan terakhirku, berhasil

memang. Aku susun lagi kalimat demi kalimat perempuan pemikir itu. Dan justru aku dapati

hal lainnya. Secarik kertas lusuh tertindih botol Club.

Selamat datang di Banyuwangi. Semoga tujuh jam Surabaya-

Banyuwangimu menyenangkan. Bila kamu suka pantai dan memang

tujuanmu berlibur, maka tepatlah. Meski kematianmu dasar tapi

liburanmu tidak hehehe. Hai, terima kasih untuk percakapan singkat kita.

Hingga detik di mana kamu membuka surat ini kita tetap tak mengetahui

satu sama lain. Biarlah. Biarlah orang asing berakhir asing. Belum tentu

bila kita berakhir mengenal, aku akan tidak mudah dilupakan, kan?

Biarlah aku menjadi bagian haru dalam kisah hidupmu. Bagian lain agar

kamu memandang hidup dengan cara lain. Entah aku manusia keberapa

yang kamu ajak bertukar cerita. Yang jelas, bagiku, kamu manusia

terakhir. Semoga kita senantiasa mengerti kehidupan. Dan semoga kita

senantiasa menjamu kehidupan. Jangan pernah memohon hidupmu

diringankan. Memohonlah kamu dikuatkan. Karena hidup tidak

sebercanda itu. Terima kasih sekali lagi.

Tepat tiga jam setelah kamu membuka kertas ini, aku sudah bukan

bagian dari bumi

*

Debur ombak

Tepi pantai

Tiga jam

Aku berdiri di sini untuk penghormatan. Berterima kasih pula untuk sekian jam

pelajaran-pelajaran barunya. Dia benar, dia akan selalu menjadi bagian singkat dalam ceritaku

yang paling haru. Yang akan aku kisahkan pada anak-cucu. Satu yang dia tidak tahu, bahwa

selain secarik suratnya, aku telah menyimpan nada-nada rendah dalam diksinya di benda pintar

mungil yang tak pernah rela aku tinggalkan.

Klik

“Manusia dasar?”

“Pemikiranmu sama persis dengan pemikiran satu milyar bahkan enam milyar

manusia di luar sana. Jawaban dasar. Tak menarik.”

“Aku berhak menjawab tapi kamu tidak berhak mencaci jawabanku.”

“Hei, aku tidak mencaci.”

“Bukan salahku kalau aku anggap kamu mencaci. Salah caramu.”

“Oh, maafkan. Aku minta maaf.”

“Aku ingin mati.”

Semoga keindahan laut senantiasa mengindahkan kematiannya.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama