Di Peron Stasiun Itu, Dia Masih Menunggu

2
306
dilihat

Oleh: Fitria Sis Nariswari (@rainiku)

Aku menggeleng cepat sesaat setelah lelaki di depanku bertanya tentang siapa lelaki dalam hidupku saat ini. “Karena kamu terlalu pemilih atau …,” dia belum menyelesaikan kalimatnya ketika buru-buru aku menggeleng kembali. “Entahlah,” desisku hampir tak terdengar. Hening. Hanya suara dedaunan yang digeser angin. Sudah hampir tiga tahun yang lalu. Namun, matanya masih mata yang dulu. Mata yang membuatku jatuh cinta berkali-kali. Pun kini. Aku masih mencari matanya. Lalu, detak jantung ini sedang berpacu jauh melebihi kecepatan rerata. Nyatanya, aku tidak pernah benar-benar berkemas. “Pacarmu siapa sekarang?” aku memberanikan diri bertanya. Tenggorokanku sedikit tercekat. Ah, ini mungkin pertanyaan yang menyangkut hidup dan matiku. Dia menggeleng. Lagi-lagi, hanya suara napas di antara kami yang saling beradu. Mungkin napasku saja yang sudah tak beraturan. Dia tampaknya masih pandai berpura-pura. “Belum ada perempuan yang menggetarkan seperti kamu,” katanya singkat. Aku tertawa kecil. Entahlah. Ungkapan perasaan macam apa yang sedang kuekspreksikan itu. Pun tak ada lelaki yang punya mata semenarik matamu, kataku dalam hati.

Jika saja dia tahu, ada letupan serupa lelatu pada malam tahun baru di dadaku. Tuhan memang suka bercanda. Dia pernah mengirimkan lelaki yang duduk di hadapanku saat ini tiba-tiba. Lalu, semua menjadi tiba-tiba menyenangkan, membahagiakan, dan tentu saja menggairahkan. Tiba-tiba pula lelaki di hadapanku ini memutuskan untuk pergi tanpa pernah berjanji untuk kembali. Semacam menyisakan luka yang terlampau sulit untuk dibalut. Tiada pesan perpisahan, kecuali mataku yang selalu mengabut setelah itu. Sudah hampir tiga tahun yang lalu setelah malam itu. Malam ketika ia memutuskan untuk pergi. Namun, nyatanya aku tidak pandai merawat rindu untuknya. Lantas, barangkali, hari ini juga merupakan salah satu skenario Tuhan yang sedang ingin banyak-banyak bercanda. Mataku tetiba tertumbuk pada mata seorang lelaki di antara lalu-lalang penumpang di Stasiun Tugu. Dia masih suka berdiri di titik yang sama.

Mata kami bertemu, kemudian entah kekuatan apa yang membuat kami saling menghampiri. “Kamu ada acara apa di Jogja? Kok tidak menghubungiku?” cecarnya ketika selesai menjabat tanganku. “Penelitian. Tidak perlu merepotkan siapa pun,” jawabku seadanya. Padahal, dalam kepala, ada banyak-banyak pertanyaan dan pernyataan untuknya. “Kamu sedang apa di sini?” tanyaku kemudian, seolah berbasa-basi, tapi sungguh, aku ingin tahu. “Menunggu seseorang,” jawabnya singkat. Aku pun tak berhak bertanya siapa yang sedang ia tunggu. Kami lalu memilih duduk di salah satu kursi peron di luar stasiun. Hingga kemudian percakapan tentang lelaki dan perempuan dalam hidup masing-masing terjadi. Hening. Sementara pikiranku sudah melayang-layang hingga awal pertemuan kembali pada beberapa menit yang lalu. We are two strangers with some memories. Tetiba kalimat itu yang terlintas di kepalaku. Entahlah. Apa pun sebutannya. “Kamu terlalu pemilih mungkin,” ucapku menyambung percakapan kembali. “Aku memilih yang terbaik,” jawabnya. “Pukul berapa orang yang kamu tunggu akan datang?” tanyaku kembali. Aku memang tak pernah tahan dengan kekikukan seperti ini. Sirine kereta yang melengking itu memberi jeda pada pertanyaanku atas jawabannya. Tanda kereta dari barat datang. Ah, barangkali yang dia tunggu akan datang. Hanya saja, dia bergeming, bahkan hingga kereta melaju kembali, kemudian lalu-lalang penumpang itu surut. Semacam tempat perpisahan dan pertemuan yang sederhana.

Ponselku berbunyi, sebuah pesan masuk dari teman satu kelompok penelitianku. Katanya, aku harus cepat-cepat menuju hotel yang sudah ia pesan, ada perubahan desain penelitian yang harus segera aku pahami. Aku sempat mengabarinya tadi pagi bahwa aku sudah sampai Jogjakarta, tetapi mungkin aku terlalu lama menuju hotel. Aku menghela napas. Sungguh. Aku ingin berlama-lama duduk di dekat lelaki ini. Lelaki yang hampir lima tahun mengisi ruang kosong yang tak pernah kubiarkan kosong itu. “Maaf, ya, aku harus secepatnya pergi. Temanku sudah menunggu. Kalau kamu tak sibuk, kita bisa mengagendakan untuk bertemu kembali. Aku di Jogja hingga tujuh hari ke depan,” kataku menutup percakapan yang lebih banyak diisi dengan saling diam itu. “Kamu hati-hati, ya! Jangan lupa makan nasi, sesampainya di hotel jangan lupa mematikan AC-nya biar alergimu tidak muncul pada saat penting seperti ini. Jangan terlalu lelah, nanti sakit,” cecarnya yang tetiba membuat aku mematung. Ia bahkan masih mengingat banyak-banyak tentangku. Aku mengangguk cepat, mengucapkan terima kasih, lalu segera pergi dari hadapannya sebelum aku meleleh untuk kesekian kali di hadapannya.

Sebuah panggilan masuk ke dalam ponselku. Aku mengangkatnya dengan tergesa tanpa melihat nama yang tertera di sana dan ingin mengatakan pada penelepon bahwa aku sudah di dalam taksi menuju hotel. “Dua puluh menit lagi gue…” “Amba, terima kasih sudah datang setelah setiap hari dalam hampir tiga tahun aku menunggumu di sini tepat pada jadwal kedatangan kereta senja yang dulu sering membawamu untuk menemuiku. Terima kasih.” Sambungan terputus tepat ketika dentuman hebat memukulku dari belakang. Lalu, semuanya berubah menjadi cahaya yang terlalu terang dan menyilaukan.

 

2 KOMENTAR

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama