Jauh

0
313
dilihat

Kita telah terlampau jauh. Pagi ini hujan kembali jatuh membasahi lembar demi lembar dedaunan pandan yang menghiasi halaman. Hujan ini begitu asri, begitu indah dan memesona bagai balerina yang sedang menari di panggung teater besar. Tapi hujan ini juga tak pernah gagal mengulang ingatanku tentang kamu. Wanita yang tak pernah tahu harus kusebut apa di hatiku. Kamu yang telah terpisah jarak denganku bermil-mil jauhnya. Kamu yang memberikan definisi kalau jarak itu indah kepadaku. Kamu yang membuatku kehilangan garis iris antara sahabat, kekasih dan impian. Aku tak percaya kalau aku selalu rindu kepadamu. Dan kuyakin kamu juga tak akan pernah percaya.

*** Seorang pujangga kampus yang termashyur namanya pernah membuat sajak: biarlah jarak mengajarkan bagaimana kita mengenang, bagaimana kita merindu dia yang tak sedikitpun hilang dari rapal doa dan ingatan. Seorang aktivis kemahasiswaan pun pernah bilang: hidup itu tentang bagaimana kita belajar, dan jarak adalah cara terbaik belajar memahami rindu. Kita sama. Dari semenjak kita bertemu pun kita selalu sama. Masih teringat ketika kita pertama bertemu di usia yang belum genap 17 tahun dul?. Tentang bagaimana perbincangan kecil di pesta ulang tahun teman membawa kita berteman melebihi pertemanan kita dengan si pembuat pesta. Kita memang selalu sama, bukan? Tapi sayangnya kita berbeda. Mengapa dari segala macam kesamaan itu kita terpisah oleh satu perbedaan yang tiada mampu dilawan? Mengapa bukan dengan perbedaan lain yang masih dapat diperjuangkan? Kita terpisah oleh jarak yang tak terelakkan. Aku tak pernah bisa mendefinisikan apa itu jarak, karena jarak dapat berarti sangat relatif bagi sebagian orang. Tapi mari kita ambil definisi yang paling umum: perbedaan tempat antara satu objek dengan objek lainnya. Objek bernama aku dan kamu. Jika jarak telah berubah menjadi jauh, masih layakkah aku mendefinisikan jarak seperti itu?

*** Sekali itu kita bertemu di gerai kopi bilangan Senayan, tempat yang kamu bilang memiliki americano paling lezat seantero jabodetabek. Kalau tidak salah waktu itu kita tengah menginjak usia 18 tahun, lebih tepatnya hari itu kamu baru saja menginjak usia 18 tahun; kita bertemu ketika kamu berulang tahun, bukan? Aku masih ingat akan buket bunga lily yang kujadikan hadiah untukmu hari itu. Jumlahnya delapan belas, sama seperti usiamu. Hari itu adalah pertemuan kedua kita. Setelah terlampau lebih dari satu tahun sejak pertama bertemu, kita dapat bertatapan langsung lagi. Sekali ini aku dateng ke kotamu, Jakarta. Tempat dimana ibu melahirkanku dulu, untuk kemudian membawaku ke tanah asing di daratan Amerika, sekaligus tempat pertama kali aku bertemu dengan kamu setahun sebelumnya. Hari itu secara tidak terduga kita membicarakan Leonardo DiCaprio. Aktor yang beberapa kali kulihat dikejar paparazi daerah bagian California, yang ternyata idola terbesarmu di ranah showbiz. Hingga akhirnya pembicaraan kita terpusat pada dua film yang pernah dibintanginya: Romeo & Juliet serta Titanic. Aku menangkap getir resahmu di antara kata yang terucap. Ketika membicarakan dua film yang berakhir tragedi ini, aku melihat kekhawatiranmu akan sesuatu. Jika bolehku menerka, kamu mengkhawatirkanku bukan? Khawatir jikalau aku menjadi korban kisah cinta tragis seperti itu denganmu. Romeo dan Juliet sama seperti kita. Mereka memperjuangkan jarak. Bagaimana mengikis jarak yang tercipta antara dua keluarga yang saling bermusuhan satu sama lain. Hingga akhirnya bunuh diri menjadi jawaban akan cara untuk mengikis jarak yang tercipta. Jack dan Rose pun juga sama. Mereka memperjuangkan jarak yang terlampau jauh antara bangsawan dan orang biasa. Hingga karamnya Titanic memberi jawaban akan cara mengikis jarak yang mulai menipis. Haruskah kukatakan kalau kekhawatiranmu itu benar terjadi?

*** Kita bertemu lagi sekitar 2 tahun sejak terakhir kali kita bertemu. Kali ini kita bertemu ketika usiaku tepat menginjak angka 20. Tanpa diduga sebuah surat elektronik beralamatkan akunmu muncul secara tiba-tiba di kotak masuk surelku: Selamat ulang tahun. Selamat merayakan kepedihan. 2 kalimat di awal pesan itu begitu terpatri dalam ingatku. Teringat celoteh kecil kita beberapa bulan lalu tentang hidup dan rindu. Tentang bagaimana jauh mampu memberikan makna baru bagi jarak: pedih Terpujilah perusahaan bernama Skype Technologies yang telah menciptakan teknologi bernama Skype. Karena kejernihan dan kemampuan bisnisnya aku dapat melihat langsung wajahmu dari ujung peradaban barat ini. Seakan kamu yang sejatinya jauh di ujung timur peradaban, terasa dekat dan hangat sampai menyelimuti tubuh yang terbungkus udara musim dingin. Tapi memang teknologi bagai pedang bermata dua. Terkadang dia bisa membuatmu lebih nyaman, namun terkadang juga membuat bertambahnya kesedihan. Semakin jelasnya wajahmu terlihat, rambutmu yang bergerak mengikuti udara ruangan, serta bibirmu yang mengucap salam-salam rindu, semakin juga rasa sedih karena tidak bisa berada di dekatmu membesar. 3 bulan sebelum ulang tahunku yang ke-20 itu kita berbincang hingga larut malam (yang kalau tidak salah tengah hari di daerah waktumu). Kita hanya bicara soal rindu dan rindu. Bagaimana kamu yang sangat ingin bertemu denganku dan bercerita langsung apa saja yang telah terjadi dihidupmu hari itu, serta aku yang begitu ingin bertemu denganmu sekedar untuk bercerita kalau hari ini aku kesiangan masuk kuliah akibat selalu teringat dirimu.

Sangat sepele memang apa yang ingin kita bicarakan seandainya kita bertemu nanti, tapi bukankah kenangan terindah selalu ada pada detil yang terkesan sepele? Kita berbicara banyak soal rindu yang semakin lama semakin menunjukan diri sebagai kepedihan. Perbincangan kita telah membuatku sadar akan ketidak-benaran paradigma yang selama ini mengakar padaku dan hampir seluruh pemuda yang dulunya pernah duduk di bangku sekolah dasar: Perjuangan tidak melulu tentang melakukan sesuatu, terkadang perjuangan adalah bagaimana kita bersikap ketika tidak dapat melakukan sesuatu. Tapi secara tidak terduga kamu datang hari itu di ulang tahunku yang ke-20. Tiba-tiba saja bel apartemenku berbunyi tepat pukul 20.20 dan kamu berdiri di sana, di depan pintu berukuran 2 x 1 meter sambil memegang sebuah kotak: persegi panjang, berlilit pita warna merah. Kamu datang dari tempat yang memiliki perbedaan waktu 14 jam hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku! Aku tidak percaya. Dengan terburu-buru aku membersihkan sofa ruang tengah yang cukup berantakan akibat jarang dibersihkan, sebelum kupersilakan kamu untuk duduk. Kurasa waktu itu kamu sadar kalau aku begitu malu terlihat ‘kotor’ di depanmu, hingga akhirnya kamu bilang kalau tidak usah dibersihkan, karena kamu cukup nyaman dengan kondisi seperti itu. Malam itu kita berbincang sampai larut. Kamu bilang kalau kamu datang  ke sini karena ikut business trip ayahmu sejak tiga hari yang lalu dan sengaja tidak memberitahuku akan kedatanganmu. Sekedar untuk memberi kejutan untukku katamu. Sejujurnya hanya dengan menatap kedua bola mata berwarna hazel milikmu aku sudah sangat tenang dan senang. Tak perlulah kita bicara panjang lebar tentang apapun, karena denganmu, saling tatap dan terdiam tanpa kata biar sesaat jauh lebih indah daripada bicara dengan orang lain berjam-jam. Tapi hari ini berbeda, aku ingin bicara terus menerus denganmu. Karena hari ini kamu nyata, ada di sini seutuhnya, bukan sekedar deretan pixel yang berusaha membentuk wajahmu di layar komputer. Tepat pukul 02.00 hari setelahnya rasa kantuk dan lelah mulai menyerang dirimu. Kedua matamu terlihat hampir tidak mampu menahan godaan untuk menutup karena katamu terlalu lelah mencari hadiah untukku siang tadi. Sebuah box persegi panjang yang baru setelah kamu menyebut kata ‘hadiah’ aku sadari keberadaannya lagi. Tampaknya aku begitu terhipnotis oleh kehadiranmu malam itu, bahkan sampai hadiah darimu pun aku lupa keberadaannya. Seketika itu juga aku memohon izin kepadamu untuk membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah pigura ber-frame coklat yang tertutup kaca bening berukuran 50 x 30cm. Di kanan dan kirinya terdapat sebuah invitation ulang tahun dan botol plastik gerai kopi yang mengapit  sebuah tulisan besar dari bunga lily yang telah dibekukan: Selamat menemukan arti lain dari jarak. Kedua mataku berair, tubuhku bergetar kecil. Sebuah kalimat yang terkesan biasa saja itu mampu membuat hatiku bergejolak. Inikah yang mereka sebut dengan pedih? Setelah itu kamu mendekat, menempelkan dahimu di dahiku, dan mengucap kalimat yang sama persis seperti rangkaian Lily yang diapit oleh barang-barang kenangan tempat kita bertemu dulu. Suaramu saat itu masih terngiang jelas di ingatanku: sendu, lirih, dan berbisik.

*** Tiga Hanya dengan jumlah pertemuan yang terlampau sedikit dalam rentang waktu 4 tahun semenjak pertama kita bertemu, virus-virus gundah dan risau telah menjangkit hati yang tiada ramai ini. Anehnya, virus-virus itu meskipun terkadang menimbulkan sakit dan luka, kalah jauh rasanya dibanding rindu dan makna yang turut menyertai. Inikah yang mereka sebut dengan cinta? Hari itu di California, pukul 02.50 ketika kamu beranjak meninggalkan pintu apartemenku adalah sekelebat bayang yang paling terpatri dalam hatiku. Siluet yang terbias dari lampu-lampu lorong kecoklatan, rambut panjang yang mengibas kecil menuju kejauhan, entah mengapa tak pernah bisa hilang biar sekalipun. mungkin tak pernah bisa hilang karena itu terakhir kali siluetmu tergambar secara nyata pada lensa mataku. Setelah hari itu kita tak pernah bertemu biar sekalipun. Atau mungkin lebih baik sedikit kuralat kalimatku: kita tak pernah berhubungan biar sekalipun. Kamu hilang begitu saja tanpa bekas. Berkali-kali aku mengirim surel ke akunmu. Berkali kali juga aku mencari kembali akun media sosialmu yang sebelum hari itu aktif, namun tiba-tiba hilang bagai ditelan resolusi layar komputer. Sekali lagi kamu telah memberikan makna baru bagi jarak sayangku: hilang. Kamu mengajarkanku kalau jarak yang terlampau jauh akan menghasilkan suatu kehilangan. Sebuah konsep yang sangat tidak sejalan memang, karena logikanya jarak haruslah memiliki awal dan akhir, tapi kamu seakan mendefinisikan kalau akhir adalah hal yang relatif. Kamu membuat apa yang seharusnya absolut menjadi relatif. Bagimu akhir adalah hilang, yang membuat jarak untukku bermakna suatu kehilangan.

*** Hari ini aku telah menyempurnakan segala macam kisah yang pernah terlukis dalam kurva pasang surut antara kamu dan aku. Biarlah kamu tetap menjadi guru terbaikku dalam memaknai jarak. Suatu problema yang sebagian besar orang di belahan bumi beradab ini anggap sebagai elegi paling buruk akan cinta. Seakan jarak bagi mereka adalah penggantung perasaan yang tidak bersubjek, tidak berasal dari alam, namun muncul secara lahiriah bersama ras, suku dan iklim. Sedangkan kamu, kamu membuatku menjadi satu dari sekian orang yang memaknai jarak secara lain sayangku. Pada akhirnya jarak terdefinisi sebagai indah dalam kamusku.  Setelah sekian lama kita menyaksikan transformasi makna yang terkandung di dalamnya ; Mulai dari jauh, pedih, hilang, hingga akhirnya  sampai pada indah. Sebetulnya aku malu untuk mengatakan apa yang akan kukatakan selanjutnya. Tetapi dorongan teman dari berbagai latar belakang membuatku luluh dan terpaksa melakukan ini. Mereka bilang kalau “aku hidup, karena itu aku ada untuk berjuang menjalani hidup.” Mungkin mereka merasa iba akan secuil romantisme buta yang jarang terlihat di era modern ini. Sampai aku berada pada suatu pertanyaan: aku atau mereka yang naif? Tulisan ini akan mereka coba sebarluaskan dalam bentuk kartu pos, propaganda media sosial, dan akan diterjemahkan secara lepas oleh salah satu temanku yang ber-latarbelakang produser dalam bentuk film. Mungkin ini adalah jalan terakhir yang diberikan Tuhan melalui teman- temanku, untuk sekedar menyadarkanmu: Aku masih ada dan selalu menunggu.

*** Langit Sri Lanka, 16 November 2013. Untuk kamu yang selalu memaknai masalah dengan ikhlas.

 

Artikel SebelumnyaKita Menghilang
Artikel BerikutnyaHari yang Harus Ada
BAGIKAN

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama