Kepada Manusia Setengah Dewa, tentang Jarak yang Anggap Saja Kita yang Buat

0
198
dilihat

Oleh: Tri Yuanita Indriani (@riaerizal)

Selamat malam, kamu!

Iya, jam berapa pun kamu membaca tulisan ini, di mana pun aku berpijak, dunia gelap karena cahaya yang biasa kamu pancarkan lenyap.

Dan aku masih tidak percaya bahwa bumi yang menenggelamkannya. Itu kita. Kamu dan aku.

Pada jutaan kecepatan cahaya yang lalu, kita pernah saling menerangi. Sebut Tuhan memang menciptakan kita untuk satu sama lain. Ajaranmu adalah petunjuk hidupku. Dan aku? Kamu selalu menyebutku sebagai malaikat pelindungmu.

Ribuan malam kita sepakat untuk tidak menciptakan sekat. Namun hari itu, saat lagu lain kudendangkan, kamu memilih untuk tidak mendengarkan.

Tidak, aku tidak sedang jatuh cinta kepadamu, karena itu sama saja dengan bunuh diri; menjatuhkan diri ke jurang, yang sepertinya baru aku tahu berapa dalamnya begitu aku tiba di surga. Itu pun aku akan membutuhkan bantuan bidadara tampan untuk mengukurnya sambil aku bergelayut dan berharap ia mau menjadi pendampingku di tempat terindah yang pernah Tuhan ciptakan.

Kamu tahu, selalu tahu, bahwa cupid tidak perlu bersusah payah menembakkan panah-panah kecil mereka ke hati kita. Cukuplah mereka melihat kita seperti menikmati indomie rebus (kalau boleh aku tambahkan, lengkap dengan cabe rawit, telur, dan sayur seperti kesukaan kita berdua); di antara kenikmatan yang mereka cecap, ada air dan minyak yang tak akan mampu bersatu.

Tapi malam itu, rasanya ada yang salah. Aku bersumpah demi Tuhan yang kita sembah dengan cara yang sama namun keyakinan berbeda, bahwa aku tidak bermaksud merusak segalanya. Harusnya cukup lah bagiku berdiam mendengarkan nyanyianmu untuk kemudian sunyi dalam nada kita masing-masing.

Namun kamu? Terlalu sempurna untuk menjadi manusia. Dan aku? Akhirnya malu-malu mengaku tetap memilih kesederhanaanmu ketika ada yang menawarkanku ribuan malam berikutnya yang akan dipenuhi dengan mawar.

Ah, setelah jarak-jarak ini dapat kita lipat dan gunting, ingatkan bahwa aku pernah menobatkanmu sebagai hal terindah ketiga yang pernah Tuhan ciptakan (tentunya setelah surga dan Nabi Yusuf). Bukan, sayang, bukan parasmu yang akan aku agungkan, bukan juga ingatanmu untuk terus membuat selengkung senyum di wajahku pada tanggal-tanggal tertentu–karena kamu bahkan bisa saja lupa tanggal lahirmu–tapi ketulusanmu.

Kamu pernah memberikan puluhan jam yang bisa saja kau gunakan untuk bermesraan dengan kekasihmu hanya untuk menunggu aku yang terluka sayapnya akibat salah mendarat. Kamu pernah menghabiskan seluruh energimu agar aku bisa tertawa dan berimajinasi bahwa kamu yang hanya tulang berbalut kulit–yang bahkan tidak lebih tebal dari kulit kroket buatanku yang menjadi favoritmu–itu berubah menjadi badut.

Kamu bahkan sering akhirnya berbagi sehat denganku (maaf jika kalimat ini harus aku perhalus, karena berbagi sakit akan membuat orang-orang membayangkan kita seperti pasangan sekarat yang sedang duduk berdua di taman dengan aku berada di kursi roda pada scene tersebut, dan kita sedang sama-sama menikmati hari terakhir kita menunggu kedatangan Malaikat Izrail).

Sekali lagi, jangan pikir aku jatuh cinta padamu. Namun aku dengan pasti tidak akan meninggalkanmu untuk suara-suara yang mencoba memisahkan kita.

Sayangnya setelah malam itu, suara justru datang darimu.

Kamu memang terlalu sempurna untuk menjadi manusia, tapi Dewa? Aku rasa kita perlu mengkaji ulang tentang itu. Ia tidak akan mengusir pengikutnya.

Hari ini, jangan kamu tanya apa kabarku, sayang.

Meski sinarnya tidak seterang sinarmu, aku akan dengan suka cita menjawab bahwa dia yang pernah menawarkanku mawar untuk ribuan malamku berikutnya ternyata tidak terlalu buruk.

Saat ini dan sedari dulu harusnya aku sadar bahwa aku tidak butuh sempurna–karena cukup satu Tuhanku.

Jadi, anggap saja kita impas.

Katakan pada mereka: ini jarak yang kita sepakati bersama.

 

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama