Kepada Pesawat, tentang Mimpi-mimpinya yang Selalu Ingin Terbang

0
450
dilihat

Lani masih berdiri di tepi bandara. Di batas pagar besi yang menjulang tinggi ia terpaku. Ia selalu takjub melihat pesawat-pesawat itu. Hampir setiap sore selepas melakukan pekerjaannya sebagai pengamen, ia selalu meluangkan waktunya di sini. Sebuah ritual yang sudah lama ia nikmati. Berdiri sendirian, memandang dengan takjub pesawat-pesawat yang melintas dari ketinggian langit. Lalu ia menghilang bersama angin yang membawanya pergi. Sesudahnya Lani pun akan selalu bertanya-tanya. Mengapa pesawat bisa terbang? Kekuatan apa yang bisa membuatnya terbang? Bagaimana ia bisa menjaga keseimbangan? Bagaimana kalau ia jatuh? Dan pertanyaan-pertanyaan itu selalu mengusiknya. Lani gadis 12 tahun yang hanya bisa mengenyam pendidikan sampai Sekolah Dasar hanya bisa bermimpi. Kapan ya ia bisa naik pesawat seperti mereka? Merasakan berada di udara, melihat birunya langit, melihat awan, melihat daratan, melihat lautan, melewati gunung-gunung, melihat deretan rumah yang nampak kecil-kecil dari ketinggian langit. Merasakan raganya melayang-layang bersama setiap rasa yang ia miliki. Ah itu hanyalah ilusi bagi Lani. Entahlah, setiap melihat pesawat-pesawat itu Lani selalu merasa kecil dengan angan-angannya yang semakin menjauh. Impiannya sih sederhana. Hanya ingin naik pesawat. Itu saja.

Sepersekian detik Lani masih terdiam. Nasibnya yang tak kunjung berubah terkadang membuatnya pasrah dan surut langkah. Keadaan telah melumpuhkan angan-angannya sejak kecil.Apalagi ia harus menghidupi neneknya yang sudah renta dan sakit-sakitan.Lani cukup tahu apa dan siapa dirinya. Lani sebenarnya anak pintar, tapi takdir tak memberinya kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.Keterbatasan biaya membuat Lani lebih memilih jadi pengamen ketimbang harus belajar menuntut ilmu. Sebenarnya Lani ingin sekali bersekolah. Tapi melihat neneknya yang sering sakit-sakitan, ia jadi merasa  kasihan. Apalagi kedua orangtua Lani sudah lama meninggal dunia.Lani sangat sayang sama neneknya.Lani hanya ingin menjaga neneknya.Sebisa dia.

Sejak kecil Lani hanya tinggal bersama neneknya.Rumah petaknya yang tak jauh dari bandara membuatnya terbiasa mendengar deru pesawat yang meraung-raung.

“Lanii ? Ayo pulang!  Sudah sore. Ngapain kamu masih berdiri di situ?”

Teriakan itu tiba-tiba mengagetkannya. Perlahan Lani menoleh ke belakang. Siluet tubuh neneknya sudah nampak dari kejauhan. Dilihatnya nenek sedang berdiri menungguinya. Meski sudah sepuh tapi suaranya masih cukup lantang untuk ia dengar. Lani pun menyadari, sudah lama ia berada dalam angan-angannya yang telah mati. Mimpi-mimpinya masih terlampau tinggi untuk digapai. Tak ada gunanya berkhayal saat ini. Tak ada gunanya memiliki keinginan yang ia sendiri tidak mampu menjangkaunya. Tapi ia percaya. Di balik keraguan yang ada.Di balik kemungkinan yang tak mungkin. Selalu ada kesempatan untuk manusia-manusia yang mau berusaha.

Pada diri sendiri Lani pun berjanji akan berusaha lebih keras untuk mewujudkan impiannya. Impian yang mungkin bagi orang lain amatlah mudah dan tidaklah susah. Tapi bagi dirinya keinginan itu amatlah tinggi dan berarti. Butuh usaha dan perjuangan yang panjang untuk mewujudkannya.

Dengan keikhlasan menerima takdir Lani pun melangkah pulang. Kali ini ia bisa berdamai dengan harapan. Ia masih menyimpan rapi keinginan-keinginan itu dalam daftar mimpi-mimpinya. Suatu saat nanti pasti. Lani berusaha yakin.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama