Kepada si Laki-Laki Bermata Sipit, tentang si Laki-Laki Bermata Sipit

0
194
dilihat

Dia si laki-laki bermata sipit, dua setengah tahun lalu kulihat ia di coffee shop yang bernuansa putih biru membosankan di pinggir kota kecil ini. Pengetahuanku tentang dia hanya sebatas nama, yang membatasiku untuk mengucapkan sapa.

Tetapi siapa atau apa yang kemudian membatasi ingatan?

Dia si laki-laki bermata sipit. Lama sebelumnya, kulihat ia membacakan puisinya di tengah kerumunan aksi massa. Sementara lirih dia bercerita tentang ketidakadilan, tiga kata yang masih kuingat dari puisinya hanyalah: boneka beruang kecil.

Aku tidak punya pengetahuan tentangnya, bahkan sekadar nama. Di catatanku tentang demonstrasi hari itu, dia kuceritakan: seorang yang bermata sipit, berorasi dengan membaca puisi.

Dia si laki-laki bermata sipit, kulihat lagi ia duduk tidak peduli di suatu pertemuan. Malam hari. Namanya banyak disebutkan di sana, sebanyak yang kucatatkan

meski,

aku belum mempunyai pengetahuan tentang bagaimana mengeja namanya.

Kujabat tangannya. Kami resmi berkenalan, satu setengah tahun lalu. Kini aku tahu namanya terdiri dari lima huruf, dan aku menyapanya setiap kali bertemu.

Siapa atau apa yang bisa membatasi perasaan, yang jatuh setelah obrolan panjang pertama?

Kulihat gelap langit malam, lampu-lampu, bangku-bangku apa saja selain mata sipit itu. Tetapi perkataannya, kalimatnya, ceritanya aku dengarkan dan ingat satu persatu.

Dia, laki-laki bermata sipit itu kulihat di gelap langit malam, lampu-lampu, bangku-bangku. Ceritanya selesai, yang tidak terbatas kini sudah punya nama baru:

rindu.

Tidak ada yang bisa membatasi untuk mengeja namanya dalam larik dan doa, saat aku tak lagi berada dalam peristiwa serba biasa, pembicaraan itu-itu saja dengan dia si laki-laki bermata sipit.

Hanya, apa yang tak terucap tetap sama:

di mataku, yang terlihat selalu dirinya.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama