Kepada Siapa, tentang Apa

0
165
dilihat

Oleh Sadra Ananda (@sadraananda)

 

‘Hai ’

 

Entah untuk siapa ku tuju sapaan ini. Jika di depanku hanyalah kertas putih. Sementara pikiran pun sama putih. Kosong. Aku tak tahu tengah berhadap dengan siapa. Bahkan jika kau bertanya di mana aku berdiri sekarang saja aku tak tahu.

 

Kemarin lariku teramat kencang. Hingga mata tertutup dari apa yang ada di sekitar. Padahal sangat banyak yang harusnya aku pelajari. Hati pun rasa mati. Nurani tertinggal jauh di belakang, yang terlihat hanya angan jauh di depan, yang tak kunjung mendekat. Untuk lantas aku kelelahan, dan baru menyadari bahwa aku salah jalan, tersesat dan tinggal seorang diri.

 

Tak lebih dari seorang pendongeng yang kehabisan kata. Padahal cerita belum usai. Kelu. Sesak. Tak lagi sanggup berucap.

 

Bagai penyair kehabisan nada. Syair ada, namun tak berirama. Datar. Kaku. Tak ada pun syahdu. Padahal banyak telinga menunggu.

 

Mana suaramu yang lantang meneriakkan segala obsesi? Mana langkahmu yang pasti melaju ke depan? Kerikil kecil-kecil tak kau lihat, tersandung sedikit, tak mampu lagi kau bangkit. Payah. Mana peganganmu?

Langkahmu tanggung, satu kaki tertahan menggantung. Bingung hendak melangkah maju atau kembali mundur. Namun, diam di tempat kau tak mau. Terlalu takut untuk maju, terlalu malu untuk mundur.

 

Aku takut disakiti dan aku meyakini bahwasanya dalam hidup berlaku hukum timbal balik, maka dengarkan kataku ini, “Aku berjanji tidak akan menyakiti siapapun, agar tak ada seorangpun yang menyakitiku.”

 

Ikrarmu pada suatu hari, yang tanpa kau sadari telah men-sugesti dirimu bahwa kau telah menjadi manusia super baik yang selalu berhati-hati dalam bersikap. Sugesti yang salah tempat.

 

Kau pikir kau sudah melakukan hal baik, nyatanya kau hanya memilih jalan terbaik bagi dirimu sendiri, yang belum pasti baik juga untuk orang lain. Kau pikir dengan kemarin membuang puntung rokok yang masih menyala, ditinggal tuannya di jalan, kau sudah cukup menolong banyak orang? Dengan kemarin membantu nenek yang tak kau kenal menyeberang jalan, kau sudah cukup baik? Baik kemarin tak ‘kan sampai pada hari ini. Baik hari ini tak ‘kan cukup untuk esok. Karena hari esok harus selalu lebih baik. Kau tahu itu, bukan? Jangan berkata bila kau lupa! Alasan basi yang menjadi andalanmu.

 

Kau lupa kau pun pernah membuang kulit pisang di jalan, tanpa kau tahu ada seorang anak kecil jatuh karenanya? Kau lupa kau juga pernah dibantu menyeberang jalan oleh seseorang yang tak kau kenal?

 

Dunia ini teramat luas, untuk manusia kecil sepertimu.

 

Kini senyummu melenyap senyap. Tak bermuka lagi rasanya. Jalan merunduk pada bumi. Mata dipejam, tak lagi orang lain sanggup dipandang.

 

Kau’ siapa yang dirimu maksud?

 

Sudah ku bilang aku tak sedang berhadap pada siapapun. Di depanku hanyalah kertas putih yang diam, meski aku menekan badannya keras-keras dengan ujung tinta yang tajam, meski sesekali aku mencoretnya dengan kasar, bahkan merenyuhnya sedemikian rupa lalu ku lempar masuk ke tempat sampah.

 

Tentang apa yang kau bicarakan?

 

Aku hanya menulis apa yang melintas di kepalaku. Maaf saja jika akhirnya tulisan ini tak berbentuk, dan kau tak mengerti. Tulisan ini bukan untuk kau, bukan tentang kau, dan memang bukan untuk kau mengerti.

Kemudian aku termenung, ingin mengakhiri tapi aku tak tahu kapan dan di mana aku memulainya. Apa cukup dengan diam lantas berlalu begitu saja? Apa ucapan ‘Bye’ karena diawali dengan ‘Hai’? Atau dengan titik saja?

 

 

Baiklah

 

Titik.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama