Kepada Surat, tentang Kehilangan

0
833
dilihat

Tentang kejadian kemarin itu, aku akan menjaganya sebagai yang tak pernah ada. Apalagi pernah terjadi di saat cuaca kenangan sedang memukau seperti sekarang. Mari kita lupakan, karena melupakan adalah pekerjaan amal untuk rasa memiliki. Aku akan mengenang bahwa di masa lalu dan masa depan kita akan tetap menjadi sahabat sehingga siapa pun yang pernah kita kenal dan mengenal kita akan mencatat satu lagi kebaikan yang kita wariskan.

Perkataanku kemarin adalah muntahan dari kegelisahan yang selama ini menghukumku siang dan malam. Sedangkan jawabanmu adalah berita tentang permulaan kematian dari kesunyian-kesunyian panjang yang kumiliki. Sebab dengan cara itulah aku akan tersenyum-senyum saat pergi dan tersedu sedan saat pulang ke rumah.

Musim apakah yang sedang kau alami sekarang? Di luar mataku sekarang aku tak bisa melihat siapa-siapa, selain kau yang naik turun angkot pagi dan sore. Aku masih melihatmu pagi tadi. Apakah sore nanti kau masih akan pulang? Setidaknya ada kebiasaan-kebiasaan yang tidak pernah hilang darimu. Juga tak berkhianat pada aku yang pelupa ini. Aku selalu dirundung musim khayal.

Cerita apakah yang sedang kau baca sekarang? Di layar desktop yang kubeli saat Jakarta ulang tahun, aku membaca sebuah kisah. Ceritanya lembut dan menggemaskan. Sampai-sampai aku susah tidur dan tak nyaman ke kedai baca. Oh ya, kedai baca tempat kau temukan cinta terakhirmu sudah ditutup. Katanya akan dibangun toko swalayan di sana. Kasihan, kenangan kita sudah beralih rupa ke etalase atas nama modernitas.

Kopi apa yang sedang kau teguk sekarang? Aku sedang minum kopi tanpa sachet. Aku bawa saat aku pulang dari sebuah tempat yang digadang-gadang sebagai penghasil kopi terbaik di negeri ini. Aku tak perlu menyebut nama tempatnya karena kau pasti tahu. Pacarmu selalu menghadiahkannya saat kau ulang tahun. Rencanya, aku akan menunggumu ulang tahun dan akan kubawa kopi ini. Setidaknya kau akan ingat bahwa hadiah yang kau terima berulang kali dari pacarmu adalah aku yang mengirimkannya. Semua terjadi saat aku diterima bekerja di kantor pos dekat rumah tinggal pacarmu.

Baju apa yang sedang kau kenakan sekarang? Aku sering mengenakan baju yang dibelikan adikmu saat aku ulang tahun. Di ruang tamu ingatanku masih ada senyum adikmu saat memberikan baju ini. Katanya biar aku bisa ganti saat aku kuyup air mata. Ia diam-diam mengagumiku yang tak lelah menjadi—sebatas—sahabat untukmu. Sampaikan salam hangatku padanya. Katakan juga bahwa paketnya sudah sampai. Tiga puisi yang diam-diam ia copot dari catatan harianmu.

Puisi apa yang sedang kau baca sekarang? Aku sedang membaca segerombolan puisi yang ditulis seorang penyair muda. Katanya ia yang menulis puisi untuk film yang melegenda itu. Ah, kau pasti tahu. Sedang ramai-ramainya di media sosial. Konon, para teman dan pengikut di media sosialnya sedang menunggu dengan dag-dig-dug ingin segera mendengar atau membaca puisi yang ia tulis untuk film itu. Kita pernah bertemu dengannya. Ketika itu kita pergi bareng pacarmu. Tapi kalian buru-buru pulang karena pacarmu tidak suka puisi. Aku kasihan padamu karena rela menyingkirkan girangmu terhadap puisi demi mengikuti kemauan kekasihmu. Ya begitulah nasib. Pada akhirnya hidup bukan milik sendiri tapi milik orang-orang yang terlanjur kita cintai atau mencintai kita. Untuk alasan yang kadang remeh-temeh itulah kita menyelamatkan diri dari kesepian.

Aku juga pernah kesepian. Maksudku, beberapa kali kesepian. Pertama, ketika aku memutuskan merantau ke kota ini, ke kotamu. Ternyata, kesunyian dan kegelapan kampung selalu punya kenangan tersendiri. Kedua, saat aku ditinggal ayahku. Aku dan ibu menangis sepanjang malam didera rasa kehilangan. Kasihan juga adikku yang belum merampungkan kuliahnya. Sedangkan ayah keburu sampai di garis finis usia. Kasihan sekali. Ketiga, ya saat kau menikah dengan pacarmu. Tapi, sudahlah. Aku tak ingin bicara panjang lebar soal ini. Bukannya tak ingin mengingat sama sekali. Aku hanya ingin malam ini aku tidak kehujanan rindu seperti malam-malam usai mendengar resepsi pernikahanmu.

Sudah lama aku ingin menceritakannya. Tapi aku tak berani atau kau yang tidak punya kesempatan renggang dari bulan madu bersama suamimu. Sampai kemarin, tiba-tiba aku ingin sekali menelpon. Aku menemukan nomor ponsel yang rupanya sengaja kau selipkan di buku yang pernah kau pinjam dariku. Aku tidak percaya bahwa nomor itu masih kau pakai. Aku mencoba, dan kau menjawab. Dan akhirnya terjadi peristiwa yang mengenaskan itu. Kau memilih pergi mendahului aku. Juga suamimu.

Saat ini aku sedang di bengkel. Menunggu motormu dibetulkan si tukang bengkel. Aku akan mengabari suamimu begitu usai diperbaiki. Ia akan mengambilnya, dan aku akan kebagian kenangan.

Aku menulis kisah ini dari bengkel dekat kosmu yang dulu; ditujukan kepada surat yang tak beralamat tujuan selain untuk kehilanganmu.

 

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama