Kepada Surat, tentang Pendaratan yang Tak Sempat

0
140
dilihat

Dari maaf,

Sudah berulangkali aku mengutuki diri sendiri. Dari balik fragmen peristiwa yang tak pernah usai. Dari kepingan kisah yang lama-lama mengantuk karena terlalu lama membusuk tidak dituturkan kepada kau. Dari yang sudah: dari-dari terlewat, hanya rutuk, gerutu, comel dan omel yang dominan di kepalaku. Senda, renung, menung, kelakar dan gurau yang kerap-kerap mampir di lapangan dahi, pelupuk mata dan akar jariku. Mereka tidak bersepakat untuk membacamu dan menulisku. Seluruh rangkaian proses tidak dapat berdamai denganku. Masa, ketika dan saat adalah lema yang terlalu hiperaktif. Mereka lamat-lamat berubah ketat dan membuatku tamat. Ketika itu, hadir ini. Saat ini, datang itu. Pengen begitu, tiba begini. Tak berdaya dibuat lumpuh olehku yang tertambat padamu. Aku coba membuka tumpukan aksara di rak-rak bukuku. Kata-kata berdebu itu terbang kemana-mana, mereka berdempet bersehadap takzim—bersama ruang yang sesak—dengan wacana, frasa, kalimat, semantik, morfologi, sintaksis, huruf, bait, paragraf, spasi, blurb yang acak dan nomor-nomor halaman yang letaknya tetap bersedia di bawah, meski begitu penting adanya menandai jukstaposisi antara angka dan kata.

Tak perlu kau memahami dari sekarang, karena yang ingin kututurkan saja tak berhasil bertemu dengan kertas atau layar gawai mesin tik, laptop dan komputer—serta piranti semacamnya untuk menulis.

Tintaku belum diisi ulang dan tuts keyboard-ku mandet-rusak, karena kemarin 24 jam yang lalu telah dijatuhkan air oleh adikku yang masih balita. Ah aku tidak percaya dengan klise itu. Sudah-sudah kau tak perlu banyak berharap lagi dariku. Oh oke, kalau begitu dengar penjelasanku dulu. Mungkin kau menganggapku basi, klise dan murah karena terlalu mudah membuat alasan. Tapi, meski kau marah dan muak, aku coba katakan saja yang sebenarnya terjadi padamu: Aku mulai pernyataan ini dengan jujur. Mungkin kau menganggapku orang yang bohemian dan flamboyan. Tak tentu arah, namun citra tetap ramah di balik prasangka orang-orang baik yang kau kenal atau tidak. Mungkin kau berpikir aku tidak memikirkan masa depan dengan sesuka-suka bermain dengan kata, yang kau sendiri tak paham maknanya, yang awam dan masyarakat umum malah mengira aku egois karena setiap mengucap tidak setiap orang tahu artinya. Seperti alien yang turun dari bumi, dan dengan mabuk nyerocos panjang membuat orang menganggap aku hanya ingin mengisap otak manusia dengan mantra yang aku dapat di luar angkasa. Mungkin kau menganggap aku terlalu necis dan terkesan narsis, karena aku kedapatan olehmu sering mengunggah foto-foto yang angkuh karena seringnya aku bersama tokoh-tokoh yang menurutku terkenal, namun menurutmu tak lebih seperti naga yang ingin mencium ekornya sendiri. Mari kita luruskan hipotesa-kemungkinan-kemungkinanmu itu menjadi kepastian.

Aku sering bermain dengan kata dan tokoh-tokoh karena itu adalah proses belajarku mengenal bagian dari dirimu. Kau tak paham? Isi dari dirimu adalah peristiwa dan aktivitas yang aku lakukan dan lalui. Aku tidak bohemian dan flamboyan, bukan juga narsis dan angkuh. Aku hanya kata yang sedang mencari jati diri untuk kehidupanku kelak di rimba lema. Aku hanya kata yang sedang mencari jati diri untuk kehidupanku kelak di rimba prosa, puisi, naskah dan sastra. Aku hanya kata yang sedang mencari jati diri untuk kehidupanku kelak di rimba artifisial dan fana. Aku adalah kata yang sedang mencari nafkah materi dan batin untuk riset yang tak kunjung usai. Aku membutuhkan bahan dari peristiwa yang kulalui.

Kemarin aku berkelana untuk menemani lensa yang berhadapan dengan manusia beserta perangainya. Aku mencari nafkah untuk mengatur manusia itu ketika beraksi di depan lensa. Manifestasi diriku berubah menjadi aksi di depan lensa untuk fiksi yang dramatik. Selama 3×24 jam aku menginap dirumah pemilik sanggar, alasannya agar aku tidak terlambat untuk memulai syuting dan mengatur semua persiapan aktor, tempat dan lensa. Setelah mencari nafkah, aku tak istirahat. Besoknya aku kuliah untuk memperkuat diriku sendiri. Kata tak boleh lemah dibalik peristiwa. Ia harus mempunyai daya yang autentik bersama data yang valid. Maka aku lanjutkan perjalanan itu, hingga kamu tidak sempat aku sayang, peluk, cium dan cumbu. Lalu kapan kau punya waktu untuk menyayangi diriku dan dirimu sendiri?   Maka dari itu aku sedang berpikir tentang semua itu. Bukankah cinta itu tak harus melulu logika? Kalau terlalu banyak terbang dan berpikir, kapan rasa sayang itu tiba dan mendarat?   Isi dari dirimu adalah peristiwa dan aktivitas yang aku lakukan dan lalui. Angkatan, anonim, bahari, berantai, berharga, buta, cerai, dawkaan, dinas, edaran, gadai, gelap, hibah, ijazah, isian, izin, jalan, jaminan, jawatan, kabar pemerintah, kawat, kabar, kawin, kaleng, kelahiran, kematian, kepercayaan, keterangan, kilat, kuasa, lahir, lepas, mati, mentega, nikah, pajak, paksa, pas, pembaca, pemberitahuan, pemilih, pengangkatan, pengantar, permintaan, perintah, permohonan, pujian, rantai, rekomendasi, sakti, salinan, sebaran, segel, selebaran, sembah, siaran, sita, somasi, suara, talak, tanda anggota, tempelan, terbang, terbuka, tercatat, tuduhan, tugas, ukur, undangan, undian, uleman, usiran, wasiat, tangan, takdir, suratan, surat.

Buat surat. Sampai kini aku tak sempat untuk menulismu. Maaf untuk surat yang terlambat. Aku menulis surat ini untuk surat yang tak sempat dituliskan. Maaf untuk segala alasan yang membuatmu sekarat karena tak mendapat tempat di tubuhmu yang kosong penuh harap.

Buat surat, dari kata yang meminta maaf.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama