Kepada Takdir yang Telah Ditentukan, Tentang Tiap Doa yang Terurai Tiap Malam

1
184
dilihat

Oleh Hasyry Agustin (@ryryagustin)

Selamat pagi. Adakah rasa syukur yang paling dalam selain melihat orang- orang yang kita sayang bahagia dengan kehidupannya. Bukan tentang jarak apalagi kesertaan, senyum yang terukir diwajah mereka cukup membuat semangat tiap harinya, termasuk senyummu. Karena cinta, maka terurai jadi doa. Karena aku cukup bahagia melihatmu tersenyum walau dari jauh, walau bukan aku yang ada di sekililingmu.

— Selamat pagi. Seperti hari-hari sebelumnya, ini bulan keenam aku mengabdikan sedikit ilmu yang kupunya untuk anak-anak di daerah Kapuas Hulu. Diberikan waktu setahun masa pengabdianku untuk dapat belajar bersama mereka, belajar tentang arti kehidupan, tentang membela tanah air, dan tentang bagaimana bertahan hidup dengan semua keterbatasan.

Maka ini bulan keenam pula aku menunggu surat darimu. Di surat itu kamu dengan bahagia menceritakan aktivitas padatmu selama satu bulan, juga foto terbarumu. Aku diam-diam membaca surat itu dan dalam waktu singkat. Karena surat itu bukan untukku, tapi untuk salah satu anak didikku.

Katamu, “Pokoknya satu anakmu buat aku ya, kak.”

Tapi dengan itu aku cukup bahagia dan tenang tentunya.

Terakhir kau mengirim surat dengan menyertakan foto bersama kedua orang tua di salah satu terminal keberangkatan. Akhirnya kamu jadi berangkat ke sekolah hukum impianmu di ujung dunia sana. Jarak kita semakin jauh. Ah tak apa, selagi fotomu hanya bersama dengan orang tuamu, selagi bukan berdua dengan pria lengkap dengan jas dan kamu memakai kebayanya.

Dua tahun enam bulan yang lalu, kita pertama kali kenal. Kita bertemu di salah satu project pengabdian masyarakat dari kampus di daerah Indramayu, Jawa Barat. Selama sebulan kita hidup bersama untuk ‘belajar’ mengajar, syukurku kita ditempatkan di titik yang sama. Aku bisa mengenalmu lebih dekat, lebih jauh, dan lebih dalam.

Selanjutnya komunikasi kita semakin intens, kita satu organisasi. Ternyata kamu mendaftar menjadi salah satu pengajar pada project pengabdian yang didirikan olehku. Lagi-lagi aku bersyukur, aku semakin mengenal perangaimu, lebih tahu apa kesukaanmu, apa hobimu, apa yang kamu tidak suka, dan aku tahu ternyata kamu selalu menjaga hatimu agar tidak dikuasai oleh siapa-siapa. Aku semakin bersyukur, setidaknya kamu bukan perempuan yang gampang jatuh hati. Jika tidak untukku, setidaknya tidak juga untuk yang lain.

Selesai masa periode pengabdianmu di projectku, kita pun tetap rajin diskusi. Setidaknya kamu menjadikanku salah satu orang yang selalu dimintai pendapat tentang pilihan- pilihan yang ada dihidupmu. Melihat orang yang kita sayang selalu dalam dan disibukkan oleh kebaikan itu lebih baik bukan.

Mengenai surat terakhir, tentang suratmu yang bercerita studi lanjutan di negara denga bianglala terbesar didunia selama setahun, kupikir ini hadiah atas doa malamku.

“….. Jika dia harus dengan yang lain, Tuhan tolong pastikan bahwa aku sudah siap untuk datang pada hari besarnya.”

Tidak muluk-muluk, doaku hanya,

“Tuhan, jika dia memang yang terbaik untukku, maka tetapkan aku bersamanya. Tuhan, namun jika dia harus dengan yang lain, Tuhan tolong pastikan bahwa aku sudah siap untuk datang pada hari besarnya.”

Kepada takdir yang telah ditentukan, tentang tiap doa yang terurai tiap malam, aku menunggu hadiah dari kalimat pertama dalam doaku,

“…tetapkanku bersamanya.”

1 KOMENTAR

  1. Satu dari milyaran manusia ada yang merasakan seperti ini, rasanya emang engga enak. Tapi percayalah doa senjata dari segalanya. Allah, engga pernah tidur.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama