Kepada Tanah, tentang yang Terusir

0
96
dilihat

Apakah hari sesudah ini masih menarik setelah kita tidak lagi bersama?

 Rumi, Cintaku. Kupastikan pertanyaan pahit itu tidak mampu kau jawab. Aku pun begitu. Setelah terusir, dan harga diriku disobek-sobek seperti sandal yang digigit anjing sinting, hidup menjadi tidak penting lagi. Setelah kita hidup masing-masing seperti sekarang, yang terasa olehku, hidup menjadi kian payah. Kini, bagaimana dirimu? Bagaimana keluargamu, setelah aku tidak lagi di tanahmu, tempatku hidup menumpang beserta keluargaku? Kita selalu menginginkan hidup yang ini dan yang itu, kenyataannya, kita tak pantas mendapatkannya. Tuhan pun bersekongkol dengan keadaan. Hanya dia yang kutahu mampu mengubah keadaan, setidaknya saat itu, saat rumahku dibakar, dilempari batu, disiram minyak. Terusir, sekaligus terbakar. Dan aku hanya bisa memegang tubuh adikku, dan bibiku. Bagiku saat itu, mereka adalah yang utama.

 Saat yang bersamaan aku berpikir dua hal: bahagia mengetahui aku masih akan hidup bersama mereka, tidak di tanahmu, yang selalu membuat kami hidup dalam sakit batin tertahan, saat dikatakan hidup menumpang di tanah pusaka keluargamu, tanah orang yang kaumnya terpandang, sekaligus ada perasaan gamang, kemanakah hidup setelah ini. Apakah ada suaka untuk para penumpang seperti kami? Aku pergi jauh. Seperti malam itu, aku berjalan terhuyung-huyung, tak membawa apa-apa selain kesakitan. Aku, adikku dan bibiku melangkah, sangat pelan, dan dalam diri kami masing-masing, tak ada secuil keinginan untuk menoleh. Menoleh artinya hati kami masih tertinggal. Kepergian akan membuat kami semakin payah, hanya karena menoleh ke belakang. Walau kenyataannya begitu, tapi semua hatiku, dan sakit-sakitnya telah kubuang habis-habis, dan kucampakkan ke dalam api yang membakar habis kayu-kayu rumahku. Aku tahu, saat itu, aku punya satu alasan untuk menoleh, tapi kepada bibiku dan juga adikku, aku tidak membicarakannya… Kau orang berada, sementara aku tidak. Keluargamu adalah pewaris tanah pusaka, dan kaummu, adalah orang terpandang.

Keluargamu, sibuk sekali dengan perkara tanah, seolah tak ada habis-habisnya. Mereka meributkan tanah-tanah perkara, yang selalu dimenangkan kaummu. Mereka orang terpandang, yang apa-apa, selalu ditakuti banyak orang. Apa yang kau makan, uang menyekolahkanmu, dan semuanya, adalah uang tanah-tanah yang diperkarakan itu. Awalnya tak ada apa-apa, keluargamu baik-baik saja. Sampai satu per satu, keadaan mulai kacau, yang juga berdampak pada orang menumpang sepertiku. Kaum seberang rupanya biang semua ini, katamu. Aku ingat, kau menangis, dan aku paham, sebenarnya kau menangisi kebencianmu sendiri pada keluargamu. Mereka sebenarnya mendapat keuntungan dari tanah-tanah yang diakui sebagai milik mereka, dan berbagai intrik yang kadang di luar batas dilakukan demi memenangkan tanah yang diperkarakan. Uang-uang pelicin, itu katamu, itulah yang tak terendus selama ini. Kau benci bagian yang itu, bahwa kerakusan keluargamu, lebih-lebih ayahmu, telah menjelma pisau yang menyakiti dirimu sendiri. Sampai hidung tajam kaum seberang itulah yang membuat urusan tanah yang busuk itu terbongkar, dan keluargamu seperti cacing kepanasan yang menggeletar tak keruan.

 Kehilangan rumah mungilku. Kehilangan kamu. Yang tersisa adalah hati yang entah sembuh dengan cara apa. Dulu, cintaku padamu tinggi-tingginya, tapi sekarang tak ubah seperti rasa sekam. Aku benci untuk masih memelirahanya, tapi, aku tak betul-betul sanggup melepaskannya. Kau tak perlu pikirkan aku, di suakaku kini. Ini tempat yang cukup bagiku, setidaknya untuk lepas dari kepayahan sebagai yang terusir. Tempat ini jauh lebih baik, menerima orang-orang seperti kami, yang hanya mengandalkan harapan untuk membuat hidupnya tetap berarti. Dan ayahmu, keluargamu, telah membabat habis-habis harapan itu dariku. Dari kami. Dari tempatku berada sekarang, masih kudengar cerita orang yang nasibnya sama. Pada tanah yang ada di pinggir ranah, keluargamu kalah. Itu yang terdengar. Sampai, ayahmu mulai memperkarakan tanah pekuburan yang telah diwakafkan bagi sebagian orang di tanah ini. Ayahmu mengusik ketenangan puluhan kuburan yang abadi di situ. Ayahmu memenangkannya. Risikonya, semua kuburan digali lagi. Mereka diminta memungut tulang-tulang keluarga mereka yang dikuburkan di situ, tapi tak satupun yang datang mengambilnya. Keluargamu menjadi kebencian orang sekampung. Rumi.. Kau tentu saja tahu, kan? Di situlah, ibuku dikuburkan.

 Depok, Maret 2015

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama