Kepada Tuan Sitompul, Tentang Asa yang Kau Anggap Rasa

0
124
dilihat

Selalu menjadi awal yang tak terduga untuk berjumpa dengan kau, Tuan. Tubuh tinggi, dada yang lebar, dibalut dengan kaus berkerah berwarna merah bata, hidung mancung, mata sipit, dan kumis tipis yang menempel, cukup membuat kau terlihat berbeda di antara sekawanan yang menggunakan jas almamater saat itu. Saya hanya memandang dari sudut ini. Melihat kau yang berada dalam keramaian, terduduk sendiri seperti menepi. Kaukah itu? Tuan Sitompul, marga yang menempel untuk darah Batak.

Kedatangan yang tidak saya kira. Tampaknya Tuan menghubungi saya karena sesuatu yang dikatakan oleh seorang kawan, sore itu. Tetapi, apa yang bisa saya terima jika ternyata kita dalam satu dunia dengan beda duga? Penghalang yang selalu ingin saya hindari dan berada di antara kita. Oh Tuan, kita beda kepercayaan. Mungkinkah akan ada kesamaan yang lebih besar untuk meleburkan perbedaan itu?

Ternyata ada dunia sihir, dengan sekedar memandang, seseorang telah masuk dalam kehidupan saya. Ketika seseorang telah datang ke kehidupan, bukan hanya namanya, tetapi seluruh kisah hidupnya juga menjadi hal yang perlu diketahui. Saya tahu apa yang perlu saya ketahui tentang kau, Tuan.

“Lantas mengapa kita masih saling bertukar tawa bersama seolah tiada yang perlu kita ketahui lebih lanjut?”

Saya tidak bisa menerima keadaan ini, Tuan. Saya terlalu takut untuk mengungkap kebenaran rasa. Saya pun tak tahu apa yang ada dalam benak Tuan ketika sekejap saja kehidupan kita mulai saling melekat. Tanpa ada kejujuran yang saya ungkapkan, tampaknya kau juga mencari hal yang perlu diketahui tentang saya.

Tuan, mengapa kau selalu meminta saya untuk mengungkapkan rasa, sedangkan saya tidak tahu apa yang kau rasakan kembali? Hidup ini tidak adil, jika hanya ada satu dalam dua yang menguasai jawaban pertanyaan. Saya menyangkal rasa ini, Tuan. Untuk keterpaksaan yang menutup kejujuran, maafkan saya. Maaf karena bukan hanya kepercayaan yang menjadi satu-satunya penghalang, tetapi juga hati ini tak mau jika hanya memberi dan melihat kau pergi.

Saya mencintai dengan kesederhanaan yang tak perlu saya ungkap dengan keterpaksaan. Saya merindukan dengan bayangan yang hanya mampu terlihat dari dasar hati. Ketertarikan pada awal pertemuan bukanlah hal yang patut untuk saya ikuti sampai sejauh ini. Ya, saya telah salah melangkah. Saya salah mengambil arah, Tuan. Pergilah. Pergi ke masa di mana bukan kau yang menjadi tokoh utama, tetapi saya. Pelajari apa yang seharusnya kau katakan ketika nanti berhadapan dengan saya kembali. Ungkapkan rasa yang mungkin masih tersimpan untuk melebur perbedaan itu.

Untuk bahasa rasa yang kini kau temukan jawabannya,

Selamat tinggal, Tuan.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama