Kepada Utami, tentang Kita Berempat

0
155
dilihat

Oleh: Dipta Tanaya (@diptatanaya)

Hai Kak Tami, apa kabar? Kulayangkan surat ini kepadamu, meskipun aku tahu celoteh-celoteh ini tak akan sampai ke tempatmu sekarang. Kutuliskan di sini agar rindu ini tak lagi terbelenggu di hati. Aku baru saja mendarat tadi siang. Dan sekarang aku menikmati suara hujan di dalam kamar, mengingat apa yang kita lewati, sambil berusaha agar keyboard laptopku tak basah karena air mata.

Kak, sudah hampir tujuh tahun semenjak pertama kali kita berjumpa. Aku ingat betul, kita bersua di sebuah aplikasi chatting yang sepertinya dulu begitu digemari anak usia belasan tahun. Lalu aku bertemu juga dengan Kak Adis, dan Mas Ryan. Lalu entah bagaimana kita menjadi dekat. Walaupun nyatanya, jarak memisahkan kita.

Kak, dulu aku sering sekali membaca tulisan-tulisan kau. Kau juga hampir selalu mengirim notifikasi ke akun Facebook-ku, kan? Agar aku membaca, dan sedikit banyak mengambil hikmah dari tulisan-tulisanmu. Ah ya, selain tulisan-tulisan pengingat itu, kau juga sering menulis yang tak aku mengerti. Dan sepertinya hanya kau dan Mas Ryan yang dapat mengerti. Mungkin kalian memiliki ikatan batin yang tak terlihat ya, hehehe.

Kau tahu kak, tulisanmu, entah sengaja atau tidak, membuatku ingin bisa menulis sepertimu kala itu. Rasanya elegan sekali mengungkapkan perasaan melalui sebuah karya tulisan. Tahun 2011 kita pernah berencana untuk bertemu berempat di Jakarta. Tiga tahun berteman tanpa bersua secara langsung membuat kita benar-benar ingin bertemu.

Aku ingat sekali, aku begitu semangat belajar agar dapat menjadi mahasiswa di Universitas Indonesia, salah satu alasannya adalah agar bisa menyusul kalian, dan kita bertemu! Namun, senja 24 Januari 2011 lalu, semuanya berubah. Allah memiliki rencana lain. Kau dipanggilNya lebih dahulu sebelum kita benar-benar bersua.

Aku menangis. Kak Adis menangis. Mungkin Mas Ryan juga. Sekarang, empat tahun sejak senja itu. Aku hampir menyelesaikan pendidikan S1-ku di kampus ini. Kak Adis masih di Jakarta, bekerja. Mas Ryan sedang berjuang di pulau seberang, mengabdi untuk bangsa. Sekarang, aku sudah melahirkan ratusan tulisan yang entah untuk (si)apa. Yang jelas, ini juga berkat tulisan-tulisanmu yang menginspirasi. Ini juga karena kau yang selalu bilang, “Ayo Nay, nulis”.

Tapi ada yang berhenti menulis, sejak (katanya) sampai pada tiitk jenuhnya. Oh ya, aku sekarang tak secengeng dulu, Kak. Yah, walaupun menangis itu kadang diperlukan juga untuk membasahi hati kita. Tapi aku selalu yakin, bahwa kita diciptakan sebagai wanita yang tangguh, seperti yang selalu kau katakana.

Kak, tentang rencana kita berempat, Allah sudah menjawabnya. Yang terbaik mungkin bukan kita bertemu berempat sekaligus. Tapi kau harus percaya, Allah menggantinya dengan takdir yang indah. Dua tahun lalu aku sudah bertemu Kak Adis. Dan setelah hampir 7 tahun lamanya sejak pertama kali kita berkenalan, akhirnya aku bertemu dengan Mas Ryan! Kebetulan aku berkunjung ke Tanjung pinang, tempat ia bekerja sekarang. Bukan di Jakarta seperti yang dulu kita inginkan. Sayangnya, dua pertemuan itu tak berbuah foto satupun karena lupa. Tak apalah, suatu hari nanti, mudah-mudahan Allah mengizinkan, kami bertiga akan bertemu.

Kak, meski kita tak pernah bertemu di dunia ini, aku berdoa, agar kelak kita berempat ditemukan di tempat terindah milikNya. Agar cerita-cerita kita bersambung kembali. Agar tak usah lagi kita berjauh-jauhan. Agar kita bisa berbagi kebahagiaan. Seperti bahagiamu ketika menyesap secangkir teh hangat di kala senja. Ah ya, Kak. Aku berhasil menulis ini, tanpa meneteskan air mata di laptopku. Mungkin nanti malam saja.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama