Kepada Yang Terhormat, tentang Putrimu yang Merindu

0
159
dilihat

 Oleh: Serli Zulmar (@serlizp)

Tak ada sesuatu yang mengusikku malam ini selain rindu. Bersama temaram pendar lampu yang sendu. Belum genap tiga tahun sejak kali terakhir kita bertemu. Usiaku kini sudah sembilan belas tahun. Aku tidak ingat kapan terakhir kali dicium keningnya olehmu. Atau memang tak pernah lagi sejak aku duduk di bangku sekolah? Aku bahkan tidak ingat pernah digendong di sebuah kapal saat sedang menuju kampung halaman di Sumatera, tidak tanpa foto yang kutemukan di album foto keluarga.

Ayah, apa kabar? Nomor ponselmu masih tersimpan di urutan pertama dalam kontakku. Fotomu juga masih ada di galeriku, untuk kulihat sesekali jika sedang dilanda rindu, seperti malam ini. Belum genap tiga tahun sejak kali terakhir kita bertemu. Bisa kupastikan kau masih setampan dulu. Kau rutin mencukur kumis dan merapikan rambut tipis di bawah dagumu. Kau juga tak pernah melewatkan mandi dan menggunakan wewangian sebelum melaksanakan sholat jum’at. Kau selalu meninggalkan perkara yang baik untuk ditiru oleh istri dan anak-anakmu.

Kalau aku masih benar, kau suka kopi hitam dengan sedikit gula atau kopi sachetan saja untuk membuka pagimu, atau sekadar untuk menemani malammu sambil menghapal ayat-ayat suci-Nya. Lalu pada waktu subuh, kau akan membangunkan si bungsu dan mengajaknya sholat berjamaah di masjid, Kau juga suka menonton berita dan mengajakku berdiskusi, sayangnya aku kurang berminat. Aku lebih suka bercerita tentang kompetisi debat yang tengah kuikuti, tentang aku yang memenangkan lomba mengarang dalam bahasa Inggris, atau tentang melanjutkan pendidikan usai sekolah menengah atas. Sepertinya kau tak tertarik, karena setelahnya kau hanya melanjutkan bacaanmu.

Hampir tiga tahun berlalu. Bagaimana keadaanmu? Adakah malaikat-malaikat yang menemanimu disana? Kau tak pernah datang lagi mengunjungiku dalam mimpi. Harus kubuang ke mana lagi rindu yang semakin menumpuk? Harus kusimpan di mana lagi tawa palsu ini? Usiaku kini sudah sembilan belas tahun, dan dalam dua tahun mendatang aku akan menuntaskan janjiku. Seperti katamu, aku harus jadi sarjana. Dengan jurusan apapun yang kupilih, kau mendukungku. Usiaku kini sudah sembilan belas tahun. Dan aku baru menyadari bahwa selama ini secara diam-diam kau selalu mendukungku. Sejak kali terakhir kita bertemu, aku baru memahami tiap-tiap doa yang kau panjatkan di sepertiga malam terakhir. Doa-doa itu mengudara dan sampai juga ke telingaku. Pada tangan yang kau tengadahkan, ada namaku yang tersematkan. Dan pada tangan yang kau tengadahkan, ada kebaikan yang kau mohonkan untukku.

Dear, Ayah,

Perihal cinta pertama, mereka benar bahwa cinta sejati seorang anak perempuan adalah ayahnya. Dan mereka benar bahwa cinta pertama tidak akan terlupakan. Aku tidak ingin lupa. Aku tak ingin hal sekecil apapun tentangmu hilang. Aku menyisihkan satu ruang dalam kepalaku untuk menyimpan ingatan tentangmu. Aku tak pernah lupa mengenangmu. Tak akan. Bahkan aku masih mengingat tiap detail kejadian pada hari abu-abu itu. Juga hari-hari sebelum dan setelahnya. Aku membungkusnya dengan rapi di sudut memoriku. Aku tak membuangnya meski tiap kali mengingatnya membuatku sesak. Aku tak membuangnya meski tiap kali mengingatnya membuatku muak. Aku tetap menyimpannya dalam pertemuan terakhir kita. Tak apa meski air mata menderas karenanya.

Aku belajar banyak tentang kehidupan. Sedikit demi sedikit aku mulai memahami perjuangan seperti yang kau upayakan dulu. Katamu, aku harus jadi wanita yang tangguh, karena kelak jika kau tak ada, aku bisa menjadi dinding yang kokoh untuk menahan badai yang menerpa mama dan adik-adik, atau menjadi fondasi yang kuat untuk menopang mereka dari keterpurukan. Katamu juga, aku harus jadi wanita yang berwibawa, karena kelak meski menjadi wanita karir, aku tetap harus mumpuni mengurus rumah tangga, juga harus menjadi istri yang taat dan ibu yang teladan seperti mama.

Wahai lelaki yang paling kuhormati,

Aku mencintaimu dengan segala pengabdian seorang anak pada ayahnya.

Aku menyayangimu lebih dari semesta dengan tata suryanya.

Aku merindumu melebihi waktu tempuh bumi yang mengitari matahari.

Tak terungkap kata, tak terlukis gambar, tak terdefinisi makna.

Kepada yang terhormat,

Ayah,

Salam hangat,

Dari putrimu yang merindu.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama