Kepada Zafina, tentang Hari-Hari Setelah Hari Ini  

0
175
dilihat

Oleh: Dini Meditria (@meditriaa)

Malam sudah beranjak sunyi saat aku menuliskan sepucuk surat ini untukmu. Aku merasa tidak lagi memiliki banyak waktu untuk menceritakan banyak hal, jadi kutuliskan saja. Supaya suatu saat nanti, saat kamu benar-benar merindukanku, kamu bisa terus mengenang diriku lewat kalimat-kalimat ini.

Zafina, kuharap kamu menyukai nama itu. Anggap saja nama itu adalah hadiah kecil dariku dan ayahmu. Kamu tahu? Aku begitu merindukan rupamu meski kita belum pernah berjumpa. Kamu adalah bagian dari diriku, adalah anugerah Tuhan yang paling cantik yang kini tertanam di perutku. Kita bersama-sama semenjak hampir sembilan bulan yang lalu. Kamu selalu setia mendengarkan semua keluhan-keluhanku, mendengar cerita-ceritaku tentang dunia, tentang segala sesuatunya yang kita sebut sebagai kehidupan. Kamu kelak akan menjalani hidupmu, warna-warnimu, suka-dukamu, dan cita-cintamu. Jalanilah dengan kuat. Jalanilah seperti kamu tak kan pernah lagi punya waktu untuk mengulanginya. Tidak perlu khawatir, ayahmu akan selalu mendukungmu selama itu membuatmu bahagia. Dan aku akan selalu ada untukmu, meski kita takkan mungkin berjumpa dan bertatapan langsung. Aku ada dalam dirimu, dalam segala hal tentangmu. Ketahuilah, hari-hari setelah hari ini adalah saat-saat yang paling berat untukku. Karena aku harus pergi dalam keadaan terlalu menyayangimu. Aku terlalu takut meninggalkanmu, aku menangis setiap hari. Aku menangis tanpa suara, supaya kamu tidak bisa mendengarku. Supaya kamu tetap merasa nyaman dan baik-baik saja di dalam sana.

Zafina, beberapa waktu yang lalu dokter mengatakan bahwa aku tak cukup kuat untuk melahirkan. Aku memiliki penyakit yang membuatku tidak mungkin bertahan lama ada di sini. Bahkan bisa saja aku pergi sebelum sempat mengenali wajahmu. Aku sangat takut, hari-hari kemarin kuhabiskan dengan berserah dalam doa yang kuucap tiada henti. Bahkan hingga kini, dan hingga nanti, aku akan terus berdoa agar Tuhan senantiasa memberikan yang terbaik. Di sini, di ranjang rumah sakit yang menopang tubuhku selama beberapa hari ini, aku menuliskan surat ini untukmu.

Malam semakin sunyi dan aku takut jika suara tangisku akan terdengar dan mengganggumu. Ayahmu terlelap sejak tadi, meski ia berkeras untuk terus terjaga. Namun, aku memintanya untuk beristirahat. Aku mengkhawatirkannya karena beberapa hari ini tak kulihat sebentuk senyumpun di wajahnya. Aku merindukan senyum itu, Zafina. Jadi pastikan bahwa nanti kamu akan terus membuatnya bahagia. Katakan padanya bahwa kita berdua selalu menyayanginya dalam waktu apa pun dan di mana pun.

Zafina, hari-hari setelah hari ini mungkin akan terasa berat buatmu. Tapi melalui surat ini aku pastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tumbuh dan hiduplah. Jalanilah hari-harimu, bersekolahlah di tempat yang baik, bertemanlah banyak-banyak, kerjakanlah apa yang kamu sukai, kejarlah impianmu, kemudian menikahlah dengan laki-laki terbaik pilihan hatimu yang sanggup membuatmu terus tersenyum.

Aih, mungkin aku terlalu jauh menerawang… Malam sudah kian lelap dan mataku kian perih karena terus berembun. Tidak, aku tidak lagi bersedih. Aku bahagia karena kamu mau berjuang di dalam rahimku yang rapuh. Berjuang untuk tetap hidup. Aku kuat karena kehadiranmu. Kita sudah seperti sahabat bahkan lebih dekat dari itu. Kamu sangat dekat, sedekat nyawaku yang terus berdenyut menantikan kelahiranmu…

Baiklah Zafina, anak perempuanku yang cantik, yang kelak akan memanggilku dengan sebutan ‘Ibu’, panggilan yang aku impikan selama ini, pada akhir surat ini aku hanya ingin mengatakan bahwa jika kenyataannya nanti aku memang harus pergi cepat, ketahuilah bahwa aku selalu menyayangimu, bahkan pada hari-hari setelah hari ini, aku akan selalu menyayangimu. Terimakasih sudah menjadi bagian dari hidupku.

Salam sayang, Ibumu.

 

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama