Ketika Kelak Aku BersamaMu

0
230
dilihat

Hujan yang turun menyisakan sedikit saja genangan di sisi kiri jalan. Membuat langkahnya sedikit berhati-hati dan melambat. Payung merah muda melengkung serasi diatas jilbab merah yang kini dia kenakan. Ada sekuntum bunga berembun yang menghiasi taman kota di tengah hiruk pikuk aktivitas megapolitan, tapi indahnya terkalahkan pelangi yang kini tiba-tiba mencuat. Ada pertanyaan yang khas ketika warna-warni berseling itu muncul, dimanakah pelangi menemui ujungnya?

Sekelebat daun gugur menambah suasana romantis sore itu, tapi ia tidak sedang merasakan jatuh cinta. Dia hanya menikmati harmoni bersama alam. Menyaksikan fenomena sangat natural diantara kekakuan manusia mencipta dunianya. Dia berbaris dengan pejalan kaki lainnya, bukan untuk ikut berburu kepingan rupiah, sekedar ingin berdua dengan waktu, menikmati detik tanpa harus takut akan pergantian. Dia menepi di sebuah kedai kopi, melipat payungnya dan berangsur masuk.

Ada bangku-bangku coklat yang ditata rapi, beberapa sofa di sudut ruangan, dan ornamen-ornamen manis yang sengaja diletakan, membuat seisi ruangan terlihat menyenangkan untuk sekedar bersandar. Ia memilih sebuah meja di dekat deretan rak buku, memesan segelas cappucino panas, dan lalu tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Rintik sisa hujan membawanya ke masa dimana waktu terlalu menyenangkan untuk berlalu. Dan sepasang kekasih yang tiba-tiba duduk di seberang tempatnya kini, membuat dia tersenyum, entah untuk alasan apa. Dia mengamati keduanya tanpa bermaksud menilai apapun. Dia percaya bahwa cinta tidak pernah terbaca. Ada wanita dan lelaki yang menghabiskan waktunya bertahun-tahun untuk saling berbagi cerita, lalu memutuskan untuk tidak saling berbicara. Ada wanita dan lelaki yang berjumpa beberapa saat, lalu memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu berdua. Dan ada pula wanita dan lelaki yang menghabiskan waktu untuk menunggu pertemuan, meski pada akhirnya mereka memutuskan untuk tetap memelihara kesendirian.

Cinta memang tidak selalu berada diantara dua. Bukankah memberi ruang untuk membahagiakan diri sendiri juga cinta? Bukankah menjaga hati agar tidak perlu terluka juga cinta? Dan bukankah menjemput akhir tanpa menunggu teman berlari juga cinta? Sepasang kekasih yang dia amati kini tengah sibuk menertawakan diri mereka sendiri. Memang tidak ada yang lebih membahagiakan dari menertawakan diri kita sendiri. Maka ketika beragam peristiwa datang silih berganti, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk melihat apa yang terjadi pada orang lain. Cukup lihat ke dalam diri kita sendiri, temukan kebahagiaan itu di dalamnya, dan tertawalah sebelum semua kesempatan itu hilang.

Lantas ia menunduk, mencoba menemukan bagian mana dari hidupnya yang bisa dia tertawakan. Tapi beberapa detik kemudian dia menemukan motif lain di jilbab merahnya. Sejumlah titik merah yang tidak bisa dikatakan indah. Titik-titik itu berwarna lebih gelap, bahkan sedikit hitam. Saat mendongak, dia merogoh tasnya dengan terburu-buru, mengambil beberapa lembar tisu, dan lantas segera bangkit. Darah kini mengucur lebih deras dari hidungnya yang mancung, tapi sepasang kekasih yang di duduk dihadapannya membuat dia enggan untuk segera pergi. Maka dia kembali duduk untuk beberapa saat.

Dia menutup setengah wajahnya dengan telapak tangan kanan, sementara tangan kiri menyangga tubuhnya yang semakin terasa lemas. “Bukankah bahagia adalah saat kita mampu menertawakan diri kita sendiri?” Pertanyaan itu kembali melintas di pikirannya. Membuat sisa energi dia kerahkan untuk berusaha tertawa meski dia tetap menyembunyikan setengah wajahnya, karena tidak seorang pun boleh tahu apa yang terjadi dibalik telapak kanannya.

Dunia terasa begitu bahagia dalam beberapa menit kemudian. Tidak ada perasaan sakit meski dia merasakan darah mengucur tidak berhenti. Karena dia tahu ada yang tetap kuat menahan semua itu, dirinya sendiri. Tidak ada perasaan takut meski dia merasakan waktu terlalu pendek memberinya hidup. Karena dia tahu ada yang tetap siap untuk pulang, dirinya sendiri. Tidak ada perasaan lelah meski dia merasakan beratnya menjaga tubuh yang letih. Karena dia tahu ada yang tetap teguh untuk menyemangati, dirinya sendiri. Dan tidak ada perasaan sepi yang terlalu menjemukan meski seseorang tidak berada disampingnya. Karena dia tahu ada yang selalu mencintainya dengan tulus, dirinya sendiri.

Dia keluar dari kedai kopi itu dengan menyeret tubuhnya, menghirup udara yang terjernihkan hujan, dan meminta Tuhan untuk berbaik hati padanya. “Jika Kau izinkan aku mendapat lebih banyak waktu untuk mencintai diriku sendiri, bahagiakan aku ketika kelak aku bersamaMu”.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama