Lalu, Bagaimana Kabarmu?

0
389
dilihat

Kalau aku benar-benar memperhatikan sisi kanan sepanjang jalan ini ketika pulang ke rumah, rasa dingin menjamah jari-jari tanganku. Bangunan asrama pekerja pabrik papan kayu ini meski belum ringkih, tapi sepi. Sejak pabrik ini tutup beberapa tahun lalu. Jendelanya ditutup rapat oleh papan-papan kayu. “Asrama Puteri Sri Wedari…. Asrama Putera Sri Rama….. Perpustakaan…..” gumamku sambil menempel-nempelkan telunjukku di kaca mobil. “Kosong”, gumamku lagi. “Pabriknya sudah bangkrut”, kata ayahku di belakang kemudi. Di benakku dulu pekerja pabrik papan yang telah bangkrut itu setiap sore memenuhi sepanjang jalan ini. Bergerombol menyetop angkot untuk pulang ke rumah, ke rumah bapak-ibunya atau ke rumah tempat suami atau istri dan anak-anaknya. Atau pulang ke asrama pekerja di samping pabrik itu, jendelanya belum lagi ditutup papan. Handuk, sarung, atau kaus lusuh tergantung-gantung depan jendela. Bayangan yang ada di benakku lebih menyenangkan daripada pemandangan sepanjang kanan jalan sekarang ini. —

Tujuh belas tahun lalu. Ibuku membelikanku jam tangan plastik yang tutupnya tersemat mini figure yang bisa diganti-ganti. Aku punya satu set, Mickey Mouse, Donald Duck, Daisy Duck, dan Ghoofy. Hari itu aku pergi ke sekolah dengan mini figure Donald Duck. Ketika ibu guru sepanjang pagi mengajari kami mengeja, berhitung, dan mewarnai gambar aku sesekali menatap Donald Duck dipergelangan tanganku. Kemudian menyentuhnya dengan tangan kecilku, memastikan Donald masih ada disana. Waktu istirahat tiba, setelah kami menghabiskan bekal yang dibawakan oleh ibu kami masing-masing, ibu guru menyuruh anak-anak muridnya pergi bermain. Aku bermain ayunan. Aku berlarian. Aku lupa mengecek Donald Duk dipergelangan tangan. Waktu istirahat selesai, kami belajar menggunting dan menempel. Aku melihat pergelangan tangan dan Donald Duck sudah tidak ada! Aku menangis terisak, “Donald Duck-ku hilang” Ibu guru mencari Donald Duck di kolong mejaku. Di lantai kelas. Sebentar saja kemudian dia berkata, “Pasti terjatuh di rumput nanti. Pulang sekolah kita cari ya.” Aku berhenti menangis. Kembali menggunting dan menempel sampai pulang sekolah tiba. “Donald Duck-ku hilang, Bu” kataku kepada Ibu yang menjemputku. “Kata Ibu Guru, Donald Duck jatuh di rumput, kataku lagi. Ibuku memandang halaman sekolahku yang luas dan rumputnya yang pendek dan tebal. “Donald Ducknya pasti sudah kesapu oleh tukang sapu. Sudah ada di tempat pembuangan sampah. Ngga tahu dimana”. Ibu menggandengku pulang. Aku diam, sedih membayangkan Donald tergeletak sendirian.   –

“Ini Ibu dan adikmu, Kak? Miriiiiip”, aku menunjuk foto laki-laki memakai toga dan seorang ibu yang menggendong anak perempuan. “Itu bukan ibu dan adikku. Ini tante dan keponakanku” “Ibu Kakak kemana?” “Dari kecil aku biasa di rumah sendirian. Aku sebatang kara. Hehehe” Aku menggaruk antara kedua alisku. Bingung dengan jawaban lawan bicaraku. Jari jemariku jadi dingin. Di depanku berlalu-lalang orang dengan kesibukannya sehari-hari, tetapi di benakku ada anak laki-laki duduk sendirian di ruang tengah rumah, setelah pulang sekolah. Seperti Donald Duck-ku yang tergeletak sendirian. Ibu, aku sedih membayangkannya. Laki-laki 22 tahun yang katanya sebatang kara itu esoknya berpapasan denganku di kampus. Lift terbuka, keluarlah ia dan kami bersitatap. Aku tersenyum (yang bisa berarti, Kak! Kamu ngga sendirian!). Dia membalas senyumku dan berlalu tidak mengatakan apa-apa. Lift di depanku kosong sudah. Jari jemariku kembali dingin. Aku jatuh hati.   –

Laki-laki itu mungkin sekarang sudah berumur 24 tahun dan sepertinya ia tidak lagi banyak kesepian. Aku sempat kehilangan kontaknya berbulan-bulan, mungkin hampir setahun setelah handphoneku dicopet di angkot. Tiba-tiba saja aku ingin menanyakan kabarnya, kucari kontak line messengernya dengan menebak acak berbagai kemungkinan nama akunnya. Di percobaan ketiga aku berhasil. “Lalu, bagaimana kabarmu?” Pertanyaan itu tidak lagi kutanyakan sesering dulu. Dia juga tidak lagi bertanya. Di benakku terbayang asrama pabrik yang jendelanya tertutup papan. Kosong, gumamku. Seperti aku sejak dia tidak bisa lagi dicari. “Lalu, bagaimana kabarmu?” Aku memberanikan diri. Tapi pertanyaan itu tidak pernah terjawab, karena tidak pernah dikirimkan. Ketika kucari namanya di kontak, kontaknya hilang. Seperti ia mem-block akunku atau berganti akun baru. Aku pun tidak punya nomor ponselnya. Asrama pekerja pabrik itu telah ditinggalkan dan jendelanya tertutup papan.  Donald Duck tergeletak sendirian di tempat pembuangan sampah. Kosong, gumamku. Kakak yang kucintai hilang, Bu.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama