Sampai Jadi Debu

0
705
dilihat

 Badai, Tuan, telah berlalu

Salahkah ku menuntut mesra

Tiap pagi menjelang, kau di sampingku

Kuaman ada bersamamu..

 

Lagu itu terus terngiang-ngiang di telingaku yang kini memandangimu dari balik tirai pintu. Sedari tadi kamu sibuk membalas ucapan selamat dari ratusan tamu berwajah semringah, sehingga sosokku tak mampu kamu jamah. Dahulu, lagu itu senantiasa memberikanku sensasi yang tak mampu kuterjemah. Betapa indah dan mesranya seandainya dinyanyikan setelah semua orang berkata, ‘SAH!’. Membayangkannya saja membuat sekujur tubuhku merinding sepaket dengan pipi yang merona merah.

Aku masih ingat kamu selalu menyanyikan lagu itu untukku —dengan gitar tua kesayanganmu dan tentu suaramu yang merdu— di setiap penutup perjumpaan kita di depan kamera tatap muka. Setelah cerita tentang enam hari yang dibahas-rampungkan dalam dua-tiga jam di penghujung pekan, yang kita sampaikan dengan berbagai varian emosi selama lebih dari dua tahun.

Aku tidak pernah sekali pun bilang kepadamu, bahwa setiap kali kamu menyanyikannya, hatiku yang gundah dan ragu kembali yakin. Yakin bahwa perjalanan terjal penuh liku dan stagnansi keadaan yang kita rasakan akan sampai pada tujuan utama: mengalahkan jarak dan meraih restu agar kita bersatu. Terlebih ketika rindu begitu mengusik saat bulan di kalender mendekati pergantian tahun dan kita saling berbisik, ‘Sabar, sebentar lagi..’ untuk memperkuat hati agar tidak goyah diterpa badai selama penantian.

Kamu, barangkali tidak benar-benar tahu, lagu itu adalah energi yang lembut, peny situasi, dan pengingat moral supaya aku secara personal mampu bertahan melewati hari-hari yang berat tanpa bertukar peluk dan cium. Kamu sudah bosan betul mendengar cerita mengenai pria-pria kaukasoid yang mengajakku berkencan.

Kembali kupandangi kamu yang nampak gagah dibalut setelan jas mewah, menyajikan senyum terbaik kepada sahabat dan kerabat, lalu sesekali bersedia mengabadikan momen bersama lewat satu-dua lensa. Engkau tersenyum lepas yang barangkali menunjukkan kepada dunia bahwa salah satu impian tertinggi hidupmu terwujud. Aku pun tersenyum di sini, memahami dan memaklumi. Inilah hari yang dahulu kita berdua tunggu.

Lalu kudengar denting piano dari samping panggung tempatmu berdiri. Seorang pianis berambut klimis menekan tuts dengan senyum penuh percaya diri. Hampir seluruh mata tertuju kepadanya. Ia membawakan lagu itu, lagu favorit kita, lagu yang paling kutunggu-tunggu. Kualihkan pandangan ke arahmu yang sedang berjalan menghampiri pianis itu sementara sahabat-sahabatmu bertepuk tangan menyemangati, kemudian kamu mengambil sepasang mic dari seseorang di belakang pianis itu.

Saat-saat mendebarkan yang menyempitkan rongga paru-paruku ketika kamu kembali ke atas panggung, menghampirinya, perempuan cantik itu, lalu menyerahkan satu mic yang kamu pegang tanpa ragu. Sekejap, jiwaku meninggalkan raga bersamaan dengan jantungku yang seolah berhenti memompa darah. Kesadaranku menipis, pengelihatanku nyaris menemui kilatan cahaya silau yang kemudian gulita total. Ingin sekali aku segera menghentikan waktu atau menekan tombol tunda untuk berlari ke arahmu dan merampas mic itu. Aku tidak setegar yang kukira, namun kakiku terbelenggu, lidahku kelu, dan hatiku lebih buruk dari tidak berfungsi sebelum sempat menyadari bahwa tiada hak cemburu yang berlaku.

Adakah kamu mengetahui duka, luka, angkara, dan rela yang hendak menggelontor terjun bebas dari bendungan kelopak mataku yang sudah berkaca-kaca, setelah hampir seribu hari mengemis kemungkinan dalam jutaan semoga untuk seluruh pengorbanan? Adakah kamu mengerti mekanisme melupakan takkan terjadi terhadapku setelah langkah pertama aku meninggalkan ruangan ini? Adakah kamu berpikir aku memikirkan ini? Kamu terasa hampir tak bersekat sekaligus terlampau mustahil untuk kudekap. Mungkin Tuhan pun angkat tangan karena kamu sudah pasti tidak bisa bertanggung jawab atas hidupku kini.

Bibir kalian yang tersenyum bahagia perlahan terbuka dan mulai bernyanyi syahdu. Hancurlah tameng ketabahan yang melindungi kuriositas akan dirimu untuk kali terakhir. Kuusir setetes keikhlasan yang mencair luruh dan luhur kusembunyikan di hadapan seluruh pasang mata. Kukuatkan sendi-sendi kaki yang menopang tubuh ini agar tidak menjadi bencana fenomenal. Menyaksikan kamu dan perempuan itu bernyanyi seperti menonton teater yang mendoktrin akalku untuk tidak lagi percaya cinta dan menjalin relasi yang disepakati.

‘Selamanya..

Sampai kita tua..

Sampai jadi debu..’

 

Kau di liang yang satu, ia di sebelahmu, aku bernyanyi pelan untuk kalian dengan senyum retak.

Sampai lagu itu selesai kalian nyanyikan dan kalian berpelukan, kuanggap kau dan aku resmi berpisah. Tak diperlukan lagi seremoni seperti ucapan, pelukan, lambaian tangan atau peristiwa dramatis lainnya. Tak ada kesempatan untuk itu, cukuplah aku bertepuk tangan seperti para tamu lainnya yang menyorakkan betapa romantisnya kalian. Mudah-mudahan kalian memang berada di liang yang bersebelahan.

Perempuan di sebelahmu itulah jatukramamu, yang di setiap pagi menjelang ada di sampingmu, yang selalu kau pastikan aman bersamamu. Ada badai yang maha bergemuruh dalam hatiku dan taufan siap menyerang untuk memporak-porandakan kehidupanku tepat ketika ekor mataku melepas sosokmu. Dan adalah kesalahan dan dosa tak terampuni apabila ketidaktahuan diriku masih menuntutmu mesra.

Yang bisa kutunaikan hanyalah pasrah, jujur tanpa retorika, dan menerima mengakui bahwa bukan akulah orangnya. Namun semoga kamu tahu bahwa aku akan tetap menepati janjiku..

Mencintaimu sampai jadi debu.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama