Sebuah Omong Kosong

0
73
dilihat

Oleh: @fmfariz

Malam yang tak biasa untuknya, malam biasa untukku.

Malam sudah lama bercengkrama denganku hingga tidak dapat lagi kubedakan pendar semu cahayanya dengan terik sinar hangat apa adanya. Malam itu, disamping sarang penyamun aku memeluk lutut sambil menunggu dengan penuh harap. Ah, untuk apa kuluangkan waktu untuk omong kosong ini lagi. Untuk apa kukorbankan tenaga dan pikiranku untuk omong kosong yang sama kembali. Namun, sudah seperti takdir dan jalan hidupnya, jiwaku membantah akal sehat yang kuagungkan selama ini dan membuatku bertahan memeluk lutut untuk satu-dua jam lagi. Atau bahkan tiga jam lagi, demi omong kosong yang akhirnya melangkah ke arahku, dan menyapaku. Omong kosong, yang membuat kata “indah” malu jika berhadapan dengannya.

Malam yang tak biasa untuknya, dan aku mulai mempertanyakan nilai dari malam itu.

Kita saling menciptakan kalimat; bertukar pikiran, berbagi pengalaman. Masih muda malam itu, namun omong kosong ini sudah membuatku kesal. Kusadari satu hal yang membuatku merasa demikian: aku butuh dia, dia tak butuh siapapun. Sejak saat itu, jiwaku berhasil dibenci oleh alam sadarku karena gagal mempertahankan keteguhannya. Omong kosong ini telah menang dalam pertempuran, yang diriku sendiri pun menjadi lawanku.

Malam yang tak biasa untuknya, dan aku melihat gemerlap cahaya di jantung malam itu.

Terlalu lama berdiam dalam gelap telah membuat inderaku tumpul dan tidak berguna lagi. Lalu, tepat pada saat itu, aku menemukan apa yang selama ini hilang dariku. Aku menemukan apa yang seharusnya dimiliki seseorang sejak lahir untuk kemudian menjadi bagian dari dirinya sepanjang hidupnya. Aku menemukan perasaanku, dan ternyata perasaanku berwujud omong kosong yang ada di depanku.

Malam yang tak biasa untuknya, dan aku ingin selalu bersama dengan malam itu lebih dari apapun.

Terciptanya perasaanku ternyata membuat akal sehatku tidak sehat lagi. Tanpa kusadari, kebodohanku pun memperlihatkan hasil kerjanya, yaitu hilangnya jurang pengertian antara hal baik dan hal buruk. Apa yang kuberikan demi omong kosong itu bukanlah yang ia butuhkan, dan apa yang kuterima darinya melebihi yang seharusnya. Di penghujung malam itu, ia melontarkan pertanyaan: kapan datangnya pagi? Hanya setelah kuterima pertanyaan tersebut, akhirnya kupahami bahwa keberadaanku adalah sebuah kesalahan.

Malam indah bertaburan bintang, yang tak biasa untuknya, dan kusadari bahwa malam itu tak pernah tercipta untukku.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama