Semilir Angin Menjadi Badai

0
172
dilihat

Malam itu terasa begitu dingin, semilir-semilir angin restoran yang berada di lantai 56 ini membuatku yang mengenakan rok mini ini menggigil kedinginan. Aku lupa akan kemampuanku bertahan, akan rasa dingin dan tatapan yang tak pernah aku hadapi sebelumnya. Aku biasanya begitu senang memperhatikan mata, meihat cahaya berbeda dari setiap orang, pancaran yang berbeda dari setiap suasana. Tapi matamu, tidak istimewa sama sekali. Warna mata hitam tidak begitu legam, sipit, dan kaca mata yang membingkainya. Tidak ada yang istimewa pada awalnya, maka kemudian aku lupa bahwa ini adalah kencan pertama. Kencan? Bagiku tidak.

Aku tidak tahu apa yang membawa kita sampai di malam itu, pada perbincangan yang jauh lebih pribadi dari sekedar daftar hadir tiap bulan. Perbincangan yang bukan lagi di ranah kantor, tapi jauh tentang mimpi yang belum kita capai, hingga kita sampai pada tengah malam, waktu yang tidak kita rencanakan. Maka malam itu pun berakhir dengan perjalanan mengantarku pulang. Semuanya biasa saja.

Pada kenyataannya, malam itu tidak pernah berakhir, berubah menjadi sebuah awal. Awal yang mengantarkan kita sejauh ini. Perbincangan kita berubah menjadi kebutuhan sehari-hari, bukan lagi tentang mimpimu dan mimpiku, tapi tentang harimu dan hariku. Tentang rencana yang akan kita rangkai dan tentang bagaimana hari esok akan kita lewati. Masalah yang kemudian bukan hanya menjadi beban sendiri, namun kita pikirkan bersama.

Percayalah, kita memulai segalanya dengan mudah hanya dengan tatap yang ku anggap biasa namun ternyata begitu hangat, begitu membekas. Tapi untuk sampai di tempat kita berada sekarang, izinkan ku mengatakan bahwa ini cukup berat. Ketika badai bukan hanya berasal dari dalam rumah, maka putarannya lebih besar dari yang kita bayangkan. Bukan hanya bagian dalam yang bisa porak-poranda, tapi seluruhnya dapat hancur tanpa puing. Ini lah yang aku coba untuk kokohkan, agar tetap berdiri tegak melawan segala badai di luar sana. Hubungan ini bukan lagi hanya tentang kita, tapi tentang segala beda yang menjadi masalah bukan untuk kita.

Kepada laki-laki yang tatapannya selalu ku rindu, terima kasih karena telah menjadi kamu. Terima kasih atas segala rasa dan bahagia yang telah lama hilang dalam tahun-tahun terakhir dalam hidupku. Terima kasih karena telah berjanji akan selalu ada di sampingku, dan menerimaku ketika tahu segala kurangku. Terima kasih karena membuatku merasa aku ada.

Kepada kita yang sedang berjuang, angin yang akan kita hadapi bukan semiliran dari atap gedung. Maka bersiaplah untuk badai.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama