Tanggal Muda

0
257
dilihat

“Mana? katanya tempatnya cozy? ini mah nggak hit.” Satu lini kalimat yang keluar dari mulutnya, di sebuah kedai kopi di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Satu hari saya pergi ke mall, menemani pacar untuk menuntaskan keinginannya yang lewah. Rasa-rasanya sudah lama saya tidak pergi ke mall. Mall ini besar dan megah, banyak orang membawa tas kertas. Saya merasa nyaman dan merasa sangat keren berjalan di dalamnya. Tapi tunggu dulu. Pacar saya adalah seorang pegiat jalan-jalan ke mall. Dia pergi ke mall dengan frekuensi melebihi hitungan jari. Belanja, makan, nonton. Tipikal. Pertanyaan saya adalah, memang sebutuh itu? Hari-hari saya memang tidak bisa dikatakan sederhana juga, sih. Saya pergi ke kedai kopi murah dengan frekuensi yang sama. Dalih saya adalah menulis, mengerjakan tugas, dan sekadar duduk sendirian merokok menghabiskan waktu, jika waktu memang benar-benar bisa habis. Pertanyaan saya adalah, memang sebutuh itu?

Belanja dan Duduk Bersama

Jujur saja, iri benar saya saat melihat banyak orang berbelanja dan membawa tas kertas sebuah lini busana ternama luar negeri. Tapi sayang, kadang-kadang uang saya tidak sebanyak itu untuk beli baju. Seringkali, di dalam mall pun, saya hanya duduk sendiri (atau bersama siapapun saya pada saat itu) di sebuah kedai kopi. Mungkin ini adalah bentuk tulisan dari ungkapan ‘tangisan si kalah’. Tapi buat saya, ini lebih dari itu. Dan tentang belanja itu bukan fokus saya kali ini. Seringkali saya bertengkar dengan si pacar karena tidak cocok pergi ke mall sering-sering. Dia pun begitu, protes tidak suka dengan kedai kopi langganan saya karena tidak nyaman dan ehm, tidak hit? Kadang-kadang justru jadi malas bertemu. Satu pertanyaan lagi, bukankah pada akhirnya yang dibutuhkan hanya duduk bersama dan berbagi cerita? Tidak mengerti, saya yang ada di luar kultur Jakarta, atau memang Jakarta punya kultur belanja semacam itu? Tanggal muda, jalan raya di kota kecil sebelah Jakarta macet. Ternyata sama, mereka antre untuk masuk sebuah mall. Duh. Mungkin, saya memang hanya butuh duduk di sofa, di lantai, atau di manapun, kemudian berbagi cerita dan tertawa bersama, daripada berjalan mengelilingi sesuatu yang tidak bisa saya beli. Ada momen yang hilang dulu, momen duduk bersama, berbagi cerita, dan tertawa bersama bapak dan mama. Iklim perdebatan dengan frekuensi tinggi menjadi suplemen mental saya. Mungkin itu salah satu alasan saya lebih suka duduk di rumah atau kedai kopi sembari ngobrol ngalor ngidul.

Menghakimi yang Telanjang

Awalnya, saya selalu menghakimi bahwa mereka yang pergi ke mall hanya orang yang menjadi korban pasar. Tapi, belakangan saya sadari, siapa pula yang menolak untuk hidup dengan cara demikian? Tapi tetap saja, ketika saya pada akhirnya bekerja dan memiliki penghasilan, bukan mall yang saya cari, melainkan teman, rokok, dan kedai kopi. Menurut saya, gaya hidup di tengah mall terlampau hiruk pikuk. Saya yang bagian dari kelas menengah menolak gaya hidup itu, karena saya tidak butuh delusi kesenangan yang ternyata saya sendiri dan kesepian. Jakarta sebenarnya kota setengah telanjang, mengenakan baju transparan bertabur kristal. Puting hitamnya tetap terlihat, bulu kemaluannya tetap lupa dicukur. Yang berniat memiliki tubuhnya, dikeliingi delusi. Jakarta tidak ingin dimiliki siapa-siapa, kata Augustine Oendari. Di tengah kota yang sama, ada kebersamaan di kedai ini, sofa dan tawa. Rokok dan kopi. Sesederhana itu menikmati penat pasca macet. Oh, rokok saya habis. Untung tanggal muda.

 

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama