Tentang Sebuah Tanya (?)

0
384
dilihat

Oleh Renium (@We_wina)

Mereka bilang makhluk Venus itu mudah diluluhkan oleh kata-kata, sedangkan Mars akan mudah digoda dengan paras yang rupawan. Lantas dimana letak logikanya? Sedang mereka bilang logika hadir agar tidak membutakan rasa. Sedang dari premis dasarnya mereka tidak melibatkan logika? Mereka semua bisa bicara dengan berperan menjadi bijak, mengatakan sesuatu apapun yang terdengar indah nan bijak seolah-olah semua bisa digeneralisir dengan pernyataan yang diciptakannya. Kenyatannya yang kualami berbeda? Nyatanya aku tak bisa mengatakan padamu untuk berhenti menatapku dengan tatapanmu yang membuatku sebagai mahkluk venus merasa kau angkat kedudukannya sedikit diatas mahluk venus lainnya di matamu. Nyatanya aku tidak bisa melarangmu untuk mengatakan kata-kata yang membuatku terbang meninggalkan tempatku berpijak.

Ketika perlahan semua berubah menjadi tidak biasa kau lakukan padaku, sekali… dua kali… tiga kali… dan kemudian semua menjadi menganggu pikiranku.

“Apa maksud dari semua perilakumu?”, sejurus kemudian aku sadar aku layaknya mahluk venus lainnya yang mudah diluluhkan oleh kata-kata. Kau tau apa yang kulakukan? Aku membodohkan diriku sendiri, aku mencaci diriku sendiri, dan aku marah pada diriku sendiri. Dimana logika? Harusnya dia hadir untuk menyadarkanku!

Ketika aku mencoba menolak mata itu, ketika aku harus memperdebatkan setiap kata-kata itu, dan setiap kali aku berusaha untuk menekan perasaan yang ada dalam diriku. Kau tahu? Rasanya seperti ada pertarungan yang hebat dalam diriku. Lantas aku bisa apa? Aku hanya berusaha menguatkan dua lawan yang saling bertarung dalam diriku antara rasa dan semua tanda tanya yang kucercahkan terus-menerus setiap kali sifat-sifat mahluk venus muncul dalam diriku. Dan ketika keduanya sama-sama semakin kuat, kau tahu siapa yang akan menjadi korbannya? Yaitu rusaknya tempat pertarungan itu sendiri sedang yang bertarung terus-menerus saling menyerang. Ya! Aku hampir saja menyerah! Sedang sebenarnya makna dari semua itu masih penuh dengan tanda tanya karena kau tak pernah menyampaikan dengan sungguh-sungguh makna sebenarnya.

Apa kau tahu? Aku merasa diriku begitu buruk. Saat di setiap sudut lingkungan kita mengajak kita untuk berpikir rasional, tapi aku bisa hampir menyerah dengan rasaku yang lupa membawa logikanya. Dan sekarang kau sudah terbang jauh dari tempatku berpijak, ditanah surga lainnya seperti yang orang banyak katakan tentang negri ini. Kau tahu? Tanda tanya itu semakin besar kurasa. Karena setelah engkau pergi, kau bahkan tak menyapaku. Padahal perlahan aku mulai membangun harapan itu. Kau bahkan tak pernah untuk sekadar meninjau sosial mediaku dan bahkan lama kelamaan kau seperti lupa pernah menerbangkanku beberapa sentimeter dari tempatku berpijak. Kau seolah lupa dan seperti tak pernah terjadi apa-apa. Aku bertanya, apa aku salah mengartikan itu semua? Karena jika melihatnya lebih jeli, saat kau ada jauh di sana kau justru lebih banyak menyapa kawan yang duduk di sampingku.

Aku masih ingat dengan jelas, saat kau mengatakan padaku untuk tidak salah tingkah di hadapanmu, otakku terus bekerja mencercah tanya agar aku tak luluh dengan semua kata-katamu. Tapi rasaku perlahan membangun harapannya dengan memberikan semburat merah pada pipiku. pertanyaanku tidak berhenti mencercah semua yang kau lakukan agar aku yakin kau hanya bersendau gurau seperti biasanya. Tapi ragaku? Salah tingkah pula ternyata. Ingatan itu begitu kuat sehingga menjadi kekuatan sang rasa untuk membangun harapannya. Meski sejuta tanya mencercahnya, kenangan itu pula yang terus melawannya, membangun harapan agar aku berusaha.

Aku hampir mencoba menjadi awal dari sebuah harmoni, karena kata Sabrang Noe harmoni akan tercipta jika ada yang berani memulai. Namun saat kumulai kau justru berhenti, dan saat kumulai lagi kau tak juga menanggapi dan harmoni itu tak jua terjadi. Seperti permainan donal bebek saja, maju satu langkah mundur dua langkah, aku maju dan kau mundur. Harus bagaimana aku? Saat semua pertanyaan mengajakku untuk berhenti, tapi rasa masih saja membangun harapan yang ujung-ujungnya tak berbentuk bangunan apapun karena bersamaan dengan dibangunnya harapan, semua pertanyaan mencercah dan merubuhkan. Sedang engkau yang jauh di sana tak jua memberiku sebuah tanda sebagai jawaban atas pertanyaanku.

Hari ini hujan, Fachri… mereka bilang hujan sering membawa kita pada ingatan pada sang mantan. Tapi aku? Aku mengingatmu. Mengingat semua perjalanan kita dari kita tak tahu siapa diantara kita hingga pertemuan terakhir saat kau telah menetapkan keputusan untuk terbang. Perlahan aku menyusun setiap kepingannya. Tetap ada di antara cercahan tanya dan rasa. Hingga aku menyadari sepertinya aku terjebak dalam tanda tanya ini padahal kepingan mampu menjawabnya. Tapi Fachri… aku masih saja menunggu jawaban atas pertanyaanku. Seperti tidak rela bahwa sekeping yang begitu membekas itu terbantahkan oleh semua kepingan sisanya.

Fachri, Kini tempat pertarungan itu mungkin benar-benar telah porak poranda. membiarkan rasa dan tanda tanya terus bertarung sepertinya justru akan membuat masing-masing menguatkan dirinya dan memperparah kerusakan sang medan laga. Kini, sang tanda tanyapun berhenti mencercah dan sang rasapun berhenti melawan. Ya, aku menyerah untuk melawan dan dilawan. Aku hanya berharap, jika semesta alam itu begitu luas. Aku juga ingin punya hati yang begitu luas. Melapangkan semua agar aku tak menuntut rasamu. Melapangkan semua dan tetap mendo’akanmu sebagai saudaraku. Dan aku ingin punya hati yang lebih luas lagi agar aku siap jika suatu saat ternyata memang tak seperti dugaku, aku bisa tetap tegar menatapmu seperti yang sudah-sudah berlalu. Aku hanya ingin menyapamu dan menulis pesan singkat untukmu, hanya untukmu tanpa hendak bermaksud mengeneralisasir untuk makhluk lain sepertimu. “jangan terburu-buru berperilaku jika sikapmu belum memberikan keputusannya”. Semoga tak akan ada lagi aku-aku lain yang melintas dihidupmu.

Tapi Fachri, nyatanya tanda tanya  itu masih saja bersemayam. Dia tidak hilang. Lewat gelombang elektromagnetik, bisa saja aku mengirimkan tanyaku padamu. Tapi aku memilih untuk tidak melakukannya, karena aku tahu ada hal yang lebih besar yang harus kau dan aku lakukan. Yang jauh lebih rumit dari hanya sebuah tanda tanya tentang rasa. Aku memilih menyimpannya dengan rapi. Toh jika pada akhirnya memang tak seperti harapanku, aku tetap harus akan pergi juga bersama logika tanda tanyaku.

Inilah kenyataannya. Entah seperti yang orang bijak katakan atau tidak… Tapi aku tahu, saat aku mencercahkan semua tanyaku pada perasaanku padamu, sebenarnya aku sedang membangun logika.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama