Terima Kasih Cintaku, Karena Sudah Rela Untuk Pergi

0
165
dilihat

Wahai Cintaku,

Aku mengucap syukur setiap kali aku mengingatmu dan akan semua kenangan yang masih tersimpan di dalam anganku layaknya aroma kue yang Ibuku buatkan di suatu sore hanya demi membuat anak-anaknya berbahagia: sederhana, hangat dan begitu penuh dengan kasih. Hatiku bagimu kusimpan penuh di dalam sebuah lemari kecil berukir di dalam pelukan yang tidak pernah kulepas sejak dulu. Mungkin kamu pergi untuk sekarang dan memutuskan untuk kembali entah tidak ada yang tahu kapan–layaknya seorang istri nelayan, aku menunggumu di bawah topi sambil melindungi mataku dan hatiku demi kamu dan keselamatanmu. Agar esok pagi, saat sang istri nelayan sedang memasak telor dan nasi lalu menyiapkan minum untuk sarapan, kamu datang membawa banyak ikan untuk dijual ke pasar agar ada makan siang bagi kita dan semua orang.

Cintaku, Sayangku kepadamu menjadi begitu indah tanpa harus aku uraikan di dalam kata-kata. Karena setiap ciuman yang terlandas di atas keningku, membuat begitu banyak bunga-bunga yang kuncup memamerkan dirinya di dalam hatiku dan perutku kembali diguncang oleh begitu banyak kupu-kupu. Aku dibuat tergila-gila oleh cintaku. Aku berharap agar cintaku bagi cintaku tidak pernah sama setiap harinya. Selalu bertambah dan didasari oleh iman yang kau tanam bagaikan biji-biji padi yang kau tabur di atas tanah yang subur—sekarang telah menjadi sehat, besar tetapi semakin tunduk dan berhasil banyak.

Cintaku, Kepergianmu selamanya akan aku bahagiakan, dan kedatanganmu akan aku sambut layaknya para rakyat menyambut Yesus dengan kain-kain dan daun palma di Yerusalem. Namamu akan selalu tergores di dalam waktu dan cintaku akan selalu menjadi peganganku di dalam hati yang walau kecil, sedikit dan tidak ada apa-apanya, tetapi memiliki kepercayaan akan kedatanganmu yang membawa banyak sukacita–akan suatu pagi di mana kamu kembali pulang membawa banyak ikan, senyum dan cerita tentang laut yang memulihkan, ikan yang begitu segar, syukur yang membawamu kembali dan kebijaksaan dari memandang ke bawah dan ke atas.

Cintaku, Untuk sekarang beginilah caraku mengutarakan cintaku: dengan doa yang tidak akan pernah kau tahu maupun kau dengar. Karena aku menemukan hubungan yang begitu indah dengan Tuhan di Atas di mana Ia berjanji untuk tidak menghakimi tetapi mencintai, dan untuk menampung segala doa dan harapan layaknya gelas yang tidak berdasar. Sama seperti janji kita, tetapi bedanya, Ia tidak pernah mengingkarinya. Aku percaya di dalam segala kebaikanNya, Ia akan selalu menjagamu di dalam pelukannya. Karena Ia tahu, pelukanku kadang lemah. Ia tahu betapa besar artimu bagiku, dan betapa itu akan menghancurkan hatiku jika melihat mimpi akan cintaku lenyap. Maka suatu malam, saat kita berdua tertidur lelap di dua tempat yang berbeda tanpa jarak yang kita ketahui jauhnya, Tuhan mengikat tali di kelingking kananmu dan kelingking kiriku, agar kita tidak kehilangan satu sama lain saat situasi menjadi ramai, dan agar kita selalu ingat satu hal yang penting: seberapa jauh kita terpisah, kita akan selalu ingat untuk pulang kepada pondok kecil yang sudah Ia buatkan bagi kita untuk kita panggil rumah.

Cintaku, Terima kasih karena sudah rela untuk pergi. Karena dari situlah aku mendapat kekuatan untuk berdiri dan mempersiapkan diri untuk kedatanganmu kembali. Aku tidak tahu nantinya kamu akan berupa dan berwujud seperti apa, tetapi aku percaya bahwa cinta akan selalu datang di saat yang paling tepat. Entah besok, lusa, beberapa bulan atau tahun lagi. Aku tidak memaksa bagimu untuk datang sekarang, karena tanpa harus berupa seorang pangeran, cintaku sudah bertebaran di semua orang yang aku lihat setiap hari, dan itu sudah lebih dari yang bisa aku syukuri. Tuhan memang keterlaluan baik, ya?

Jadi Cintaku, Selamat malam dan selamat menikmati hidup yang begitu menyenangkan. Jangan lupa untuk keluar rumah dan menghabiskan banyak waktu untuk berbahagia, dunia ini memiliki begitu banyak kejutan bagimu setiap harinya, hanya jika kita bersedia untuk mencari tahu.

Aku, layaknya sang istri nelayan, di bawah topi, di pinggir pantai, akan selalu menanti kedatanganmu.

Sampai bertemu suatu saat nanti.

Artikel SebelumnyaDialog Tentang Rasa
Artikel BerikutnyaSebuah Percakapan
BAGIKAN

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama