Terima Kasih Dayanara, Karena Menghadirkan Hujan Di Bulan Mei

0
113
dilihat

Oleh: Gagar Asmara Shofa (@gagarasmara)

Akhir Mei

Pikiran bodoh apa yang membuatku?tidak berpikir panjang?menerima ajakanmu. Laki-laki yang sama sekali tidak kuselami seluk beluk pikirannya, bagaimana kepribadiannya, atau sekuat apa akhlak dan tanggungjawabnya.

Awal Februari Memang benar, kita saling tahu. Aku tahu namamu, Dayanara. Lengkap dengan wajahmu, walau aku masih suka samar dan kabur membayangkannya. Kaupun kiranya juga mahfum soal namaku. Kita bertemu pada pesta sederhana, awal Februari itu.

“Dayanara, ya?” Sapaku padamu sambil mengulurkan tangan.

“Eh? Ya?” Wajahmu tampak bingung. Atau kaget? Kita berjabat tangan.

“Destara.” Sambil kulebarkan bibirku, tersenyum hangat padamu. “Aku sudah baca puisi kamu, lho! Good!” Lanjutku.

“Eh? Puisi yang mana?” Wajahmu tambah bingung ya? Atau benar-benar kaget kali ini?

“Itu, soal idealisme sajakmu, yang tidak akan ada satu orangpun yang sanggup membelinya!” Jawabku mengutip beberapa baitnya.

“Oh itu, hanya mengisi waktu luang, iseng-iseng berhadiah kalau ada orang yang suka dengan sajak-sajakku.” Jawabmu ringan. Selalu saja begitu respon yang kamu keluarkan. Rendah hati. Malu-malu. Membuat hati semakin penasaran mengulik siapa dirimu. Dan pertemuan singkat itu berakhir.

Akhir Mei (lagi) “Kamu ada kegiatan sore ini?” Kubaca pesanmu pada instant messenger. Aku kaget. Ada apa gerangan Dayanara bertanya begitu padaku?

“Sepertinya kosong, Day. Seminggu ini, selain belajar untuk ujian semester, aku free.” Balasku segera.

“Sebenarnya, aku ingin ke toko buku pojok jalan Sinai sana, ada buku yang harus kubeli.” Balasmu. Jantungku berdebar. Hanya segitu sajakah? Tidak ada pesan masuk lagi? Aku mulai berharap. Pesanmu tidak kunjung kubalas. Aku masih menanti. Tidak berapa lama, masuk pesan darimu.

“Dan aku butuh teman untuk referensi.” Jantungku seakan mau pecah. Ia berdegup kencang tak karuan. Jariku lemas.

“Lalu?” Aku hanya membalasnya dengan satu kata. Ingin kutunjukkan padanya bahwa apa yang ia sampaikan adalah hal yang belum tuntas. Tuntaskan Day! Jeritku gemas dalam hati.

“Maafkan aku Destara, mungkin kamu menganggapku tidak sopan. Dan memang sebelumnya kita tidak pernah bertemu, kecuali Februari, pada pesta kecil itu…” Oh, kamu masih ingat Dayanara? Soal pesta kecil itu. Syukurlah, aku kini merasa tidak sendirian. Kulanjutkan membaca pesanmu.

“…Tapi, entah, tiba-tiba aku ingin kamu menemaniku untuk membeli buku di toko buku pojok jalan Sinai itu. Maukah?” Pesanmu hanya kupandangi. Belum kubalas. Jantungku masih berdegup kencang walau sudah mulai reda. Jariku masih lemas. Handphone-ku tiba-tiba terasa berat kugenggam.

Tuhan perasaan apakah ini? Haruskah aku menerima ajakannya? Kami hanya bertemu sekali waktu itu, dan sekarang tiba-tiba kami jalan berdua? Apa seluk beluk dalam pikirannya, bagaimana kepribadiannya, atau sekuat apa akhlak dan tanggungjawabnya? Apa yang ia rencanakan? Ya, Tuhan, kenapa semua pertanyaan itu tiba-tiba runtuh dengan rasa percaya? Kenapa aku seakan-akan sudah begitu lama mengenalnya? Begitu kuasakah Engkau Tuhan ketika membolak-balikkan perasaan manusia? Astaghfirullahhaladzim. Kutepis semua pikiranku itu. Aku mencoba berprasangka baik pada Tuhan dan pada dirimu, Dayanara.

“Boleh. Jam berapa, Day?” Sent! Jeriktu dalam hati. Kulempar handphone ke kasur setelah aku membalas pesan ajakanmu. Aku merebahkan diri. Kututup mata. Lalu, tiba-tiba pertanyaan ini muncul dalam benakku. “Topik apa yang kiranya menarik untuk kuperbincangkan denganmu Dayanara? Siapkah aku menyambutmu nanti?”

Akhir Juni Kita masih duduk dalam perpustakaan ini, karena di luar, hujan sedang mendera bumi. Dinding kaca perpustakaan itu, terkadang membuatmu mengamati keadaan di luar sana. Hujan semakin deras. Setelah beberapa saat, kamu kembali tenggelam dalam buku yang kamu baca. Aku yang duduk di sampingmu, mengerjakan soal-soal latihan ujian, tidak tahan akan kesunyian ini. Ingin kubuka percakapan, aku takut mengganggumu. Jadi kurelakan niatku memecah kesunyian, membuka percakapan, dan sekarang aku diam.

“Aku tiba-tiba ingat, saat pertama kali mengajakmu untuk menemaniku membeli buku di toko buku pojok di jalan Sinai. Ingatkah kamu, Desta?” Kamu berujar pelan dan ringan padaku. Aku tersentak. Kamu mengabulkan niatku untuk memecah kesunyian ini. Herannya aku. Apa kau mendengar setiap hasratku, Dayanara? Sekalipun aku hanya membatinnya. Apa kamu punya kekuatan super?

“Tentu. Aku masih mengingatnya Dayanara. Ada apa memangnya dengan hal itu?” Jawabku.

“Oh, tidak. Aku tiba-tiba saja ingat dan penasaran.” Kamu mulai menatap wajahku.

“Penasaran?” Aku terheran, jadi ikut penasaran.

“Kenapa kamu mau menerima tawaranku waktu itu? Padahal kamu belum tahu seluk beluk dalam pikiranku, bagaimana kepribadianku, atau sekuat apa akhlak dan tanggungjawabku. Juga apa yang aku rencanakan padamu. Kenapa kamu menerimanya, Dayanara?” Jantungku berdegup kencang, seketika. Jari-jariku lemas. Bibirku seakan terkunci, tak ingin bicara. Kiranya, pertanyaan itu sugguh tidak baik untuk kesehatanku, Dayanara. Kenapa pertanyaan kamu seiseng ini? Tidak adakah pertanyaan yang lain Dayanara? Aku bisu. Diam seribu bahasa. Lidahku kelu, enggan mengeluarkan kata. Tiba-tiba kamu tersenyum, membetulkan kacamata bacamu, dan sedikit menggeser kursimu untuk menghadapku.

“Tahukah kamu Desta, sebenarnya aku juga menanyakan hal yang sama pada diriku soal pertanyaan-pertanyaan itu. Apa seluk beluk dalam pikiranmu, bagaimana kepribadianmu, atau sehebat apa akhlak dan tanggungjawabmu. Sempat aku curhat pada Tuhan, Tuhan perasaan apakah ini? Haruskah aku mengajaknya? Kami hanya bertemu sekali waktu itu, dan sekarang tiba-tiba kami jalan berdua? Sopankah aku?” Kamu berhenti sejenak. Kamu palingkan wajahmu menyaksikan rintik hujan di luar sana. Kupandangi sorot matamu. Aku tahu kamu ingin melanjutkan kata-katamu, Dayanara. Ayo, lanjutkan. Bibirmu mulai terbuka. Aku tidak sabar menunggu kata-kata yang keluar.

“Tapi, tiba-tiba pertanyaanku itu rontok seketika. Hanya dengan satu rasa. Kau tahu rasa apakah itu, Desta?” Kau bertanya masih dengan menatap rintik hujan di luar sana.

“Ehmm.. apa?” Singkat. Aku pura-pura tidak tahu sebenarnya, Day. Percaya! Percaya! Percaya! Itu yang ingin aku ucapkan untuk menjawab pertanyaanmu.

Kamu memandangku, kali ini lebih lekat. Aku sontak mematung, kelopak mataku berat untuk berkedip. Bola mataku seperti kau tawan. Ia tidak bisa kabur kemana-mana. “Percaya. Aku tiba-tiba saja percaya padamu, Destara. Seakan-akan aku sudah begitu lama mengenalmu.”

Mendengar itu, semua syarafku tiba-tiba tegang, jantungku berdegup kencang, tangan dan kakiku lemas dan keringat dingin mulai keluar membasahi jemariku, banyaknya tak keruan. Pada Tuhan, kuucap syukur, alhamdulillahhirabbilaalamin, banyak-banyak. Semoga, aku (juga kamu Dayanara), kiranya, kita tidak salah dalam mengambil sebuah keputusan.

“Dayanara…” Suaraku lirih.

“Eh, ya?” Kamu berpaling padaku.

“Terima kasih, ya…”

“Untuk?” Wajahmu tampak bingung.

Aku hanya tersenyum.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama