Terima Kasih Hujan, karena Telah Melumpuhkan Logika

0
224
dilihat

Oleh: Ratih Utami Khairani (@ramikhai)

Belakangan ini cuaca agak sulit ditebak, musim sudah tak seteratur waktu lalu. Katanya sih ini dampak global warming. Sialnya aku tidak membawa payung karena tadi pagi langit begitu cerah. Terpaksa aku harus meneduh di depan toko roti langgananku. Setidaknya seminggu sekali aku menyempatkan diri membeli roti di sini. Rotinya lembut, manis coklatnya pun cocok dengan lidahku. Meskipun atap teras toko ini tidak begitu luas, tapi masih mampu melindungi blazer satin dan rokku dari hujan yang intensitasnya cukup tinggi ini. Sebenarnya lokasi toko roti ini tidak begitu jauh dari tempatku bekerja, ada di tepi pertigaan jalan. Gedung kantorku yang memiliki lantai hingga puluhan itu pun dengan jelas terlihat dari toko roti ini. Namun enggan rasanya kaki ini melangkah kembali ke tempat kerja, lagi pula bau tanah basah khas hujan tak gagal membuatku betah menunggu hingga hujan reda.

“Ojek payung mba?”, tanya seorang pemuda yang berhasil membuyarkan lamunanku dan membuatku cukup terkejut. Aku bukan tipe orang yang suka menggunakan jasa seperti itu. Apalagi tarif ojek payung sangat subyektif, seikhlasnya. Ikhlas buatku, belum tentu dia bisa ikhlas menerimanya. Atau mungkin itu semua hanya dalam pikiranku.

“Mba, ojek payung?”, tanyanya lagi mengonfirmasi.

“Oh..iya iya”, jawabku agak ragu karena perang dengan diriku belum selesai. Sepertinya tidak ada salahnya juga sesekali menggunakan jasa ojek payung. Aku bisa menghemat waktu pulang, meskipun ada harga yang harus dibayar.

Setelah berjalan sekitar sepuluh langkah aku dibuatnya terkejut untuk kali kedua. Dia menyewakan payungnya padaku tapi tidak membawa payung cadangan untuk dirinya sendiri. “Gosh, aku harus bayar berapa?”, tanyaku dalam hati. “Jika kuberi lima ribu rupiah kemudian ia lantas sakit, pasti dia akan rugi. Jika kuberi sepuluh ribu rupiah, aku sepertinya yang akan rugi karena jarak yang kutempuh untuk sampai ke angkutan umum tidak lebih dari 100 meter”, tapi aku hanya mampu mengucapnya dalam hati. Akhirnya kuberi dia lima ribu rupiah dan sepotong roti coklat. Matanya tampak berbinar, senyum merekah menghiasi wajah kuyupnya.

Biasanya aku memikirkan untung rugi terhadap tindakan yang kulakukan, tapi setelah melihat ekspresinya entah mengapa aku ikut merasa bahagia. Jadi seperti ini rasanya berbagi. Pantas begitu dianjarkan dan bahkan dijanjikan akan diberi lebih.

Dua bulan kemudian ketika aku keluar dari toko roti langgananku, lagi-lagi hujan turun. Namun, kali ini aku membawa payungku. Setelah berjalan sekitar sepuluh langkah, seperti ada yang menghampiriku.

“Ojek payung mba?”

Enggak…..eh mas”, kataku sambal menoleh. Ini kali ketiga dia membuatku terkejut. Dia membawa sepotong roti coklat di tangan kanannya dan payung di tangan kirinya. Katanya aku adalah pelanggan pertama yang memberinya roti coklat. Selama dua bulan ini dia terus berdoa agar hujan selalu turun setiap harinya, supaya bisa bertemu lagi denganku atau setidaknya supaya banyak pelanggan dan dia bisa mengumpulkan uang untuk membeli roti coklat itu.

OMG is this real life?”, seperti biasa aku bergumam dalam hati. Kukira adegan seperti ini hanya ada dalam film televisi atau drama asia. Hanya saja pemuda ini memang tidak terlihat seperti Reza Rahardian atau Kim Soo Hyun sehingga aku bisa membuat cerita dengan judul Ganteng-ganteng Ojek Payung atau My Love From Another Profession.

Seminggu kemudian, masih di bulan penghujan, aku sengaja tidak membawa payungku. Entah ini hanya rasa penasaranku atau aku mulai kehilangan akal sehatku. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit berlalu. Sialnya kaki ini begitu kaku, masih ingin menunggu. Menit ke delapan belas, aku berniat menyerahkan diri pada hujan deras.

“Ojek payung mba?”, tiba-tiba suara itu terdengar. Ini kali keempat pemuda itu membuatku terkejut. Mungkin dia berpedoman pada rumus bahwa wanita suka diberi kejutan. Kali ini kejutannya sukses membuatku tersenyum. Rasanya tiga kata itu mulai menjadi favoritku. “Inikah yang mereka sebut cinta? Benarkah tidak perlu alasan untuk mencinta? Apa aku sudah gila?”, perang dengan diriku dimulai kembali.

Artikel SebelumnyaEnigma
Artikel BerikutnyaSeVati
BAGIKAN

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama