Terima Kasih Jaka, Karena Telah Menjadi Laki-Laki

0
108
dilihat

Jaka yang baik,

Sesungguhnya sudah lama sekali saya menginginkan terusan musim panas itu. Terusan bermotif bunga-bunga dengan aksen garis melengkung yang khas pada bagian pinggangnya dan terdapat kerut-kerutan yang mempercantik bagian lengan dan ujung roknya. Warna dominan ungu lilac dengan gradasi putih dikombinasikan dengan sedikit coklat peru membuat saya yakin bahwa siapapun yang mengenakannya akan terlihat seperti bidadari yang tengah berlari di sebuah taman yang dihiasi bunga-bunga anggrek bulan. Burung-burung akan menghampirinya. Para kekasih tak akan cukup sabar menunda untuk mencumbu keningnya. Kemarin, saya lihat di televisi, model-model aduhai dari merk pakaian ternama Burberry Prorsum, berlenggak-lenggok di catwalk dengan mengenakannya. Cantik sekali.

Saya benar-benar ingin mengenakannya, memperlihatkan padamu betapa cantiknya saya jika dibalut dalam terusan musim panas itu. Tapi, saya mengetahui dengan pasti, ayah saya tak akan suka. Maka, sedari awal saya maksudkan saja terusan musim panas tersebut sebagai hadiah untuk istrimu tercinta, Fitri.

Namun, Jaka, saya juga manusia. Meskipun saya harus mengikhlaskan sesuatu hal, jika saya memiliki satu milisekon kesempatan saja – untuk sempat meraihnya, sebelum kehilangan hal tersebut – saya akan tetap menggunakan kesempatan yang ada. Maka, selagi Ayah dan Ibu sedang tak ada di rumah, saya putuskan sejenak mengenakan terusan musim panas tersebut, berlenggak-lenggok di depan sebuah cermin besar di ruang tamu rumahku, sambil membayangkan wajahmu yang niscaya terkagum-kagum bila berkesempatan melihatku mengenakannya di hadapanmu. Meski saya yakin, saya tak secantik Fitri saat mengenakannya. Mungkin sebab itu kamu lebih memilihnya.

..

Ayah saya terobsesi menjadi laki-laki. Bukan, bukan karena ia sedang mengalami krisis dalam hal menentukan identitas seksual dan gendernya – ia sudah laki-laki tulen. Tetapi, karena ia  ingin setiap gerak-geriknya mencerminkan tafsir pribadinya tentang bagaimana seharusnya setiap laki-laki menampilkan dirinya. Mulai dari perkara sederhana, seperti laki-laki harus menggunakan pakaian yang tidak gonjreng (menurut versinya), hingga harus selalu nomor satu dalam segala hal, termasuk dalam hal sesepele salip-menyalip ketika mengemudi di sumpeknya jalanan ibukota. Saya pernah melihat ia membunyikan klakson mobilnya kencang-kencang sambil meneriakkan kata “Anjing!” kemudian meludah ke luar jendela, kala terlibat dalam sebuah balapan jalanan yang tak sengaja dimulai ketika mobil keluargaku “kalah” dalam menerobos padatnya pintu tol ibukota. Baginya, itu genderang perang.

Ibu pernah bercerita bahwa Ayah sangat menginginkan anak laki-laki. Jauh sebelum kelahiranku ia telah mempersiapkan segalanya, kamar tidur bayi berwarna serba biru, mainan mobil elektrik, sederet action figure pahlawan bertopeng dan tentara, hingga poster besar bertuliskan ‘Like Father, Like Son’ yang sampai hari ini masih terpajang di dinding kamarku. Maka, ketika dahulu saya lahir melalui rahim ibu saya, saya seolah sudah mengetahui bahwa kelak ia akan terus-terusan membenci saya.

 [Di Sekolah]

Saya bukan tak mau melawan, saya hanya tak suka kekerasan. Itulah sebabnya mengapa saya akhirnya memutuskan untuk menjauh dari kawan-kawan saya dan menyantap makan siang saya di sebuah toilet usang yang sudah tak terpakai lagi di sekolah, pada jam istirahat. Sendirian. Kawan-kawan saya yang laki-laki kerap memukuli saya dan meminta paksa uang jajan saya. Kawan-kawan saya yang perempuan kini semakin menjauhi saya karena saya tak lagi punya pamor di sekolah. Siapapun yang berteman dengan saya, akan dimusuhi oleh ratusan kawan lainnya. Saya tak ubahnya sampah yang tak lagi ingin digunakan oleh siapapun, pun yang memungutnya akan dianggap sebagai manusia yang menjijikkan.

Saya harus diam, berpura-pura kuat, agar tidak mengecewakan harga diri ayah saya, juga tidak membuat sedih perasaan ibu saya. Tapi, saya juga punya batas dan suatu hari saya harus menceritakannya pada mereka.

[Di Rumah]

Saya tahu saya tidak bisa menjadi seperti Ayah. Itu sudah kodratNya. Bukan soal saya lahir bagaimana dan berwujud seperti apa, tetapi karena setiap manusia memang dilahirkan berbeda. Saya bukan orang yang kuat. Saya bukan laki-laki, dan jika saya memiliki kesempatan untuk menjadi laki-laki, saya tak ingin menjadi seperti Ayah. Namun, Ayah seperti tak memahami itu. Tangannya yang keras kembali menyambar pipi saya. “Saya merasa tidak pernah punya anak perempuan secengeng ini!” teriaknya melayang-layang di udara, kemudian pada semesta saya. Saya hanya bisa menangis sejadi-jadinya, dengan ibu saya memeluk saya. Ia juga menangis sejadi-jadinya.

..

Jika menjadi laki-laki bermakna memiliki kemampuan untuk menyakiti sesama, maka sebaiknya laki-laki tiada saja. Dunia akan menjadi tempat yang lebih damai, tanpa kekerasan, tetapi akankah peradaban tercipta? Perempuan tak bisa hidup tanpa laki-laki, katanya. Mungkin persis seperti apa yang aku lihat pada Ibu. Ayah memperlakukannya seolah ia hanya ditujukan untuk mereproduksi keturunan yang baik, dan ketika ia gagal, ia tak lagi ada gunanya.

Dalam hal ini, saya adalah simbol kegagalan. Kegagalan ibu saya, kegagalan saya sendiri.

Saya melihat dengan mata kepala saya, waktu itu, tamparan melayang ke wajah ibu saya. Lalu, saya melihat Ibu tunduk, menangis bersujud, memeluk kaki Ayah, memohon – mungkin – sambil membayangkan indahnya janji-janji surga sebagaimana diutarakan oleh para pemuka. “Kamu tidak becus mengurus anak!” tuding Ayah sambil menendang ibu saya.

Karena Ayah tak pernah salah.

Prinsip itu membuatnya menjadi laki-laki sejati.

Saat itulah saya menemukanmu, Jaka.

..

Melalui surat ini, saya ingin mengucapkan terima kasih atas waktu dan sikapmu yang berharga, yang mungkin menurut orang lain tidak akan berguna jika kamu sisihkan untuk saya, tetapi tetap kamu pilih untuk berikan kepada saya.

Terima kasih, karena tidak ikut tertawa ketika seorang guru matematika melecehkan perawakan saya di tengah kelas. Terima kasih, karena tidak turut melayangkan tinjumu pada wajah saya ketika para laki-laki memukuli saya saat saya tidak bisa memberikan uang jajan saya kepada mereka, andai mereka tahu ayah saya memberhentikan uang jajan saya, juga akibat ulah mereka. Terima kasih, karena tidak turut membicarakan mengenai keburukan saya di belakang punggung saya, seperti yang dilakukan oleh teman-teman perempuan saya yang lain. Terima kasih, karena seringkali menghabiskan waktumu untuk makan siang bersama saya di sebuah toilet usang bertempat di sekolah kita dulu.

Dan, terima kasih, atas ciuman pertama kita.

Meskipun, karenanya, kita tak pernah lagi bertukar sapa dan kamu tak pernah lagi mengunjungi saya di toilet usang itu pada jam makan siang. Semuanya berlalu sangat cepat, sebelum saya sempat membalas kebaikanmu.

Sampai saya dengar kamu memutuskan menikahi Fitri beberapa tahun lalu dan kini telah dikaruniai satu orang anak. Saya ingin berkenalan dengan mereka, tetapi saya tahu, sebaiknya hal tersebut tidak saya lakukan. Mereka akan lekas membenci saya jika mereka melihat saya.

..

Ayah dan ibu saya pulang ketika saya sedang berlenggak-lenggok dengan mengenakan terusan musim panas yang sebenarnya saya belikan sebagai hadiah untuk Fitri. Mata ayah saya seketika membelalak, ia mendengus, marah besar. Ia menghampiri saya lalu memukuli saya sampai tersungkur. Wajah saya dibenturkannya ke tembok hingga berdarah. Perut saya dipukulinya hingga saya tak bisa lagi merasakannya. Kemudian, ia menendang kemaluan saya dan saya tak bisa mengingat apa-apa lagi setelahnya.

Apa yang terakhir kali saya dengar dan akan terus saya sesali adalah suara tangisan keras ibu saya.

..

Jaka yang baik,

Sebenarnya ingin saya titipkan terusan musim panas ini agar diberikan seorang kurir kepada Fitri usai acara pemakamanmu. Namun, saya urungkan niat saya. Pertama, karena saya pikir hadiah ini akan lebih tepat diberikan pada hari yang ia anggap sebagai hari bahagia. Kedua, karena kini terusan musim panas tersebut sudah sobek tak berbentuk dengan sisa bercak-bercak darah pada setiap sudutnya.

Pada ujung surat ini, saya, yang sampai hari ini belum dapat membalas kebaikanmu, hanya ingin mengucapkan kalimat sederhana yang menyimpulkan setiap rasa syukur saya: terima kasih, karena telah menjadi laki-laki.

..

Sesampainya di sana, tolong tanyakan padaNya,”Apakah Ia menyukai warna pelangi?”

Kelak, saya juga akan membawakan bingkisan untukNya.

Salam,

Adam.

Pada sisi-sisi bangunan toilet usang ini besar tertulis: HATI-HATI DIPERKOSA BANCI.

Artikel SebelumnyaBiar Hujan Yang Bercerita
Artikel BerikutnyaPrematur
BAGIKAN

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama