Terima Kasih Jatuh Cinta, karena Telah Datang Tepat Waktu

0
319
dilihat

Jatuh Cinta Bagian Pertama

Untuk kita yang baru saja bertemu. Kemudian datang hasrat untuk berbagi kebahagiaan diiringi senyum dan tawa yang tak pernah aku duga sebelumnya, datang lebih cepat dari prediksi yang biasanya aku buat. Kita bertukar sapa, aku dan kau, sejak saat itu. Kemudian ada pertemuan-pertemuan yang telah dijadwalkan, kadang aku yang tidak datang, kadang juga kau yang tidak hadir. Namun sekalinya kita bertemu, aku yakin kita selalu berhasil melepas rindu. Kita melebur dalam suasana yang kita buat sendiri. Mungkin karena kita sama-sama suka bernyanyi. Mungkin karena kita sama-sama senang berperan menjadi orang lain untuk lebih mengenal siapa diri kita. Atau mungkin kita hanya ingin bergerak, melampiaskan segala hal yang tak bisa diucapkan dalam kata pada dunia nyata. Pada ruang besar yang telah dipinjam, aku sering merekam adegan-adegan saat kita bersama dalam aorta kecilku. Saat kau melemparkan lelucon, saat aku kebingungan bagaimana cara yang benar untuk melemaskan otot-ototku, saat kita bersemangat untuk sesuatu yang mungkin bagi orang lain tidak terlalu penting. Namun pada adegan-adegan itu, lagi-lagi kita banyak tertawa, entah mengapa kita begitu sering tertawa, mungkin karena kita sedang melakukan segalanya bersama-sama. Atau mungkin karena kita gila. Ya, sudah, denganmu aku rela menjadi tidak normal. Kemudian datang waktu kala kita menghabiskan dua malam bersama, saat kita mungkin masih saling lupa bagaimana cara terbaik untuk menyapa dan saling bicara. Maklum, kita, kan, belum benar-benar sering menghabiskan waktu bersama. Pastilah selalu ada canggung pada detik-detik pertama di antara keinginan kita untuk lebih mengenal satu sama lain. Dan seperti yang sudah-sudah, ada kosong pada diriku yang terisi hingga seringkali tumpah pada hari-hari itu. Seperti saat aku melihatmu menari, saat bagaimana kau tersenyum seusai aku menyanyi dengan suara pas-pasan, atau saat kita sama-sama memuji dan bertepuk tangan untuk segala hal yang kita coba tampilkan walau hanya dipersiapkan dalam hitungan jam. Kemudian aku pulang lebih dulu dan untung saja kau tak marah. Kau tetap memperlihatkan padaku foto-fotomu yang tampak begitu bahagia dengan baju berwarna putih. Dengan senyum lebar dan sesekali menunjukkan gigi – yang aku tidak tahu apakah sudah kau sikat atau belum saat itu -, aku ikut tersenyum walau aku tidak ada di sana denganmu. Dan sejak saat itu, aku tahu, bahwa jatuh cinta tidak selalu terjadi saat kita ada pada waktu dan tempat yang sama, melihat senyummu di foto yang kau kirim tak lama setelah aku pulang, kau berhasil membuatku ikut tersenyum, merasakan bahwa hadirmu begitu penting bagiku. Iya, aku jatuh cinta. Kau datang tanpa tanya, tanpa duka, tanpa prasangka. Kau datang tepat waktu. Dan aku ingin berterima kasih untuk itu. Aku sudah siap untuk jatuh cinta lagi dan lagi denganmu. Oleh karena itu, untuk hari-hari berikutnya yang akan kita lewati bersama, aku juga sudah siap jika sesekali kau datang dengan tanya, dengan duka, dengan prasangka. Jika saat membaca tulisan ini kau masih bertanya mengapa denganmu aku mudah jatuh cinta, maka duduklah dan perhatikanlah kita saat sedang bersama, aku yakin sebenarnya kau juga sudah merasakan hal yang sama, bukan padaku, melainkan jatuh cinta pada kita. Terima kasih telah datang tepat waktu. Tepat saat aku merasa tak ada rumah yang mampu sehangat saat bersamamu. Dan sebagai rasa terima kasihku, izinkanlah aku untuk berjuang bersamamu, saling berbagi cerita, tawa, duka, dan segala rasa. Izinkanlah juga aku untuk terus berusaha membuatmu bahagia dengan berbagai cara, sama seperti yang kau lakukan saat berhasil membuatku jatuh cinta. Terima kasih Rentak Harmoni untuk perjalanan yang baru saja kita mulai, mimpi yang baru saja kita buat, dan perjuangan yang akan kita lewati bersama. Bersamamu, membuat aku lebih mudah bahagia dan begitu sering bersyukur. Lantas aku harus menyebut rasa ini seperti apa, selain… jatuh cinta?

*******

Jatuh Cinta Bagian Kedua

Untukmu yang datang tiba-tiba, dengan sosok sederhana, di malam minggu, saat sepertinya kamu tidak tahu harus melakukan apa dan aku yang sedang berusaha sabar di tengah kemacetan ibukota. Kamu menyapaku, lewat sebaris kalimat yang sangat jarang aku temui belakangan ini. Kamu asing, aku asing. Kita belum saling mengenal, namun sanggup bertukar cerita. Sampai akhirnya terjadi pertemuan pertama. Saat kamu menyapaku dengan senyum yang membuat badanku panas dingin – tanpa kamu tahu. Kamu mungkin tidak pernah percaya bahwa pada perbincangan pertama kita, aku seperti sudah sangat lama mengenalmu. Kamu bicara tentang dirimu, pekerjaanmu, keluargamu, cerita-cerita lainnya dan aku begitu menikmatinya. Sepotong kue dan sebotol air mineral saat itu terasa lebih manis dari dugaanku. Namun, senyummu lebih bisa aku nikmati daripada keduanya. Kamu harus tahu, ada bahagia yang meluap siang itu saat menatap kedua matamu. Pertemuan berikutnya, aku justru tidak bisa menjadi biasa. Perjalanan ke kedai kue saat itu adalah perjalanan paling canggung yang aku lakukan, jantungku bergerak tidak karuan. Sesekali aku mengingat senyummu yang telah aku rekam pada pertemuan pertama kita, justru membuatku kalang kabut. Seperti perasaan tidak sabar bercampur dengan perasaan tidak tahu harus bagaimana saat kita bertemu lagi. Lantas di sore itu kita menikmati dua potong kue pada satu piring yang sama, dalihnya karena kita sama-sama tidak lapar. Namun peristiwa saling berbagi saat itu menjadi pengingat bagiku, bahwa aku begitu menikmati caramu untuk tidak memberikan jarak di antara kita. Kamu harus tahu, ada bahagia yang meluap sore itu saat melihatmu tertawa tentang berbagai hal yang kita bicarakan dan kita begitu menikmatinya. Pertemuan berikutnya, aku semakin tidak karuan. Mental ini sama seperti anak sekolah dasar yang harus masuk kelas di hari pertama sekolah. Kamu harusnya bertanggung jawab; bahwa semangkok ramen kesukaanku itu seperti tidak ada rasanya karena aku lebih terkonsentrasi pada cerita-ceritamu. Larut dalam semua kata-katamu. Aku terinspirasi. Dengan segala kesederhanaanmu, kamu begitu rela memperkenalkan dirimu sebagai kamu. Kemudian di penghujung pertemuan kita, aku berikan sebuah buku yang aku tulis setahun yang lalu. Katamu buku itu jadi buku fiksi bertema cinta pertama yang kamu punya. Kamu harus tahu, ada bahagia yang meluap malam itu saat melihat kamu melambaikan tanganmu pelan-pelan seperti tak ingin terburu-buru berpisah. Begitupun dengan pertemuan-pertemuan lainnya yang sudah aku simpan baik-baik pada satu rak cerita yang sejak beberapa saat lalu sudah aku rawat dan akan selalu aku jaga keberadaannya. Terima kasih karena kamu telah datang tepat waktu, tepat saat aku sudah mulai merasa bahwa yang sepertimu tak akan hadir ke dalam dimensi ruang dan waktuku. Terima kasih dengan kesederhanaanmu, kamu rela berbagi dunia dan cita-cita denganku. Terima kasih dengan segala yang kamu punya dan tidak aku punya – begitu sebaliknya -, kamu membiarkan kita untuk saling belajar satu sama lain dan saling mengingatkan untuk melakukan kebaikan. Bersamamu, membuat aku lebih mudah bahagia dan begitu sering bersyukur. Lantas aku harus menyebut rasa ini seperti apa, selain… jatuh cinta?

*******

Untuk kedua cinta yang baik dan telah datang tepat waktu, izinkanlah aku jatuh sejatuh-jatuhnya. Karena merasakan jatuh cinta dengan keduanya, membuat aku lebih mudah bahagia dan begitu sering bersyukur. Maka biarkanlah aku bahagia sekuat-kuatnya dan bersyukur sedalam-dalamnya, dengan cara jatuh cinta, padamu, yang secara tak langsung berarti aku juga sedang jatuh cinta… pada-Nya.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama