Terima Kasih Kamu, karena Membiarkanku Tahu

0
460
dilihat

“Jangan-jangan..”

Bagaimana jika ternyata ada cabai yang menyelip di sela-sela gigiku ketika pertama kali bertemu dengannya? Atau ada kutu yang tak sengaja melompat dari rambutku ke hidungnya, atau binatang menjijikkan ternyata hinggap di tubuhku? Bagaimana jika, ah, sudahlah. Terlalu banyak yang kupikirkan hingga rasanya sulit membedakan ilusi dan kenyataan.

Pertemuan. Jadi, berakhir hingga kau buat aku bahagia sampai sini saja?

Mungkin aku yang terlalu mudah jatuh, atau kau yang terlalu mudah menganggapku sanggup direngkuh. Jika dari awal semua ini tak kau inginkan, mengapa di akhir kau ungkap bahwa ini hanya sebuah percobaan? Yang akhirnya kaupun tak bisa lepas dari kegagalan. Yah, lelaki selalu klise.

‘Jangan-jangan’ku telah terjawab. Ternyata tidak ada bau tak sedap di tubuhku, ternyata tak ada bon cabai menyelip di sela gigiku, tak ada nasi yang meloncat ke piringnya dari piringku. Tak ada hal konyol semacam itu. Yang ada hanyalah nyata yang pilu.

Untuk apa aku meminta seseorang berjalan bersamaku sedangkan dia tahu dia akan meninggalkanku? Untuk apa aku memohon kepada rinduku jika yang kumau tak sedikitpun menginginkan hadirku? Aku menyerah. Aku pasrah. Tapi, aku resah. Hatiku gundah, tak lepas dari rasa gelisah. Meski hidup terus berjalan tanpa menungguku yang terlalu banyak memikirkan.

Aku ingin lupa, tapi lupa tak pernah menjawab segala tanya. Aku ingin terbuka untuk dapat menerima, tapi yang kudapat hanyalah luka. Segumpal rasa yang tumbuh begitu saja tak mudah terhapus lalu menghilang begitu saja. Aku harus sadar, bahwa di tengah harapan akan selalu ada kenyataan yang kian lama kian memudar.

Ada rasa rindu yang diam-diam ingin mengikat.

Padahal kenyataannya, ada nyaman yang dibuat-buat.

Aku mundur, Farhat.

Terima kasih untuk waktu singkat yang cukup membuatku terpikat. Terima kasih telah mengajarkanku banyak hal, meski hanya sepintas. Terima kasih telah memberiku batas, dan terima kasih telah memberiku senyuman yang cukup untuk sekedar berbalas. Oh, iya, terima kasih juga telah bersedia menjadi tokoh utama untukku dalam coretan kertas.

Dari aku, yang selalu dicap ‘menderita’

Shinta.

Depok, Desember 2015.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama