Terima Kasih Kamu, Karena Mengajariku Untuk Tersenyum Melihat Kenangan

0
216
dilihat

Sore hari di depan meja rias, aku tenggelam dalam palet rias wajah, bersiap diri menatapmu malam harinya. Ketika taksi datang, semangatku berlipat ganda. Hari ini, dua tahun lalu.

Satu hari aku tak tenggelam dalam kehidupanku sendiri. Aku merasa berharga karena ada yang menemani. Makan malamku tak lagi sendiri. Berbicara tentang alien, tentang makna tangis, tentang matahari Jakarta yang beranak pinak. Sejuta bahan obrolan tak habis dibicarakan denganmu. Kita tak peduli dengan perangkat pintar. Hanya ada aku dan tatapanmu.

Bungkus kelima kretek sudah habis. Senja sudah lewat. Kita tetap berdua. Pukul sebelas malam, aku mulai bingung cara pulang. Di dompetku hanya ada seribu. Kamu menawarkanku untuk tidur di tempatmu. Kenyataannya, kita tak tidur. Meneruskan obrolan yang tak kunjung usai. Seingatku, jam dua pagi kita mencapai bungkus kedelapan dan belum juga sesak. Kamu memang tak pernah tidur. Sudah lupa di hitungan ke berapa, namun gelas kopimu tak pernah kosong. Lantai delapan belas benar-benar hidup malam itu.

Paginya, aku ingat rumah dan merasa harus pulang. Perpisahan yang mudah, karena aku yakin kita akan bertemu lagi esok atau dua hari lagi. Aku tersenyum-senyum di dalam bus sambil mencium bau matahari pagi. Jalanan kosong karena hari itu hari Minggu. Bersandar terkantuk sendirian tak membuatku gusar, karena aku memang sendiri di dalam bus.

Esoknya kutunggu kabar darimu. Pagiku tak seramai sebulan lalu. Kau diam hingga seminggu ke depan. Ketika aku bertanya, ternyata kamu kembali ke dia yang sebelumnya sudah ada. Terlalu aneh saat itu karena aku tak sedih. Aku dan kamu terlalu manis dan pantas untuk dikenang. Cerita kita terlalu indah untuk dilupakan. Dua tahun lalu aku sendiri dan kau memberikan telapak tanganmu. Aku merasa dicintai dan dikasihi secara bersamaan, seperti tertolong. Kini aku duduk sendiri masih bisa mencium bau matahari di bus. Aku masih bisa merasakan betapa senangnya bisa hilang sebentar dari hidupku yang tanpa arah. Kamu memberiku banyak bahan bakar untuk mimpi-mimpiku yang ditertawai orang. Cuma kamu yang percaya bahwa aku bisa.

Aku dan kamu terlalu manis. Cerita kita terlalu menyenangkan untuk dilupakan. Tatapmu, walau tak lagi di depanku, masih membuatku tersenyum.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama