Terima Kasih Naledi, Karena Dunia Baik-Baik Saja

0
147
dilihat
Designed by Jcomp / Freepik

 “Just call me Star, ” adalah kalimat pertama yang benar-benar aku ingat di sore pertama kita bertemu. Belasan jam perjalanan udara dari sebuah bandara yang lebih mirip kantor kelurahan, di negara kecil bernama Bostwana, mungkin telah melunturkan sedikit semangatmu untuk tinggal bersama kerlip kota metropolis. Dan jalanan Seoul malam hari dengan bau soju dan ayam goreng dari restaurant chicken and beer, seperti jamuan tak menarik kala lelah lebih dulu memaksamu untuk segera menutup hari.

“If you’re not busy, I think I need your help to go around and buy some stuffs and of course I need my bedding for sleeping tonight.”

“Yes, of course. I’ll show you the cheapest place”

Seperti mengulang pelajaran pelafalan, aku memberikan penekanan di suku kata pertama kata cheapest, tapi sedikit berlebihan, dan kita benar-benar mengerti apa fungsinya.

“Ok, good. You seem already know me.”

“Women are always looking for the cheapest…I guess.”

“Especially students…”

Dia menambahkan.

“Hmm…just be more specific, who are currently living away”

“Haha…exactly!”

Aku tidak tahu percakapan itu masih mengisi ingatanmu atau tidak. Atau mungkin yang kamu ingat hanya ekspresi mukaku saat kita berkenalan. Persisnya saat kau berusaha menyebut nama aslimu.

“Nisa”

“Naledi Mousweu”

“Na..?”

Aku seperti meraba-raba udara, berusaha menemukan partikel terkecil yang bisa ditangkap, atau setidaknya bertemu debu yang sedikit terkoagulasi. Tapi gagal. Gendang telingaku tentu bergetar untuk setiap suku kata yang kamu ucapkan, dan bunyi berhasil menyusuri osikula ke rumah siput. Tapi saraf auditoriku terlalu payah menerjemahkannya ke otak. Mungkin karena ini kali pertama baginya mendengar aksen afrika yang begitu kental.

Belakangan aku tahu, alasanmu menyuruhku memanggilmu Star. Karena ada bintang yang tersembunyi di balik nama itu. Bukan sekedar arti dari hasil penerjemahan, tapi memang bintang itu hidup dalam batinmu, menjadi doa yang meliputi hidupmu, dan berdifusi indah dalam setiap lapisan langkah. Dan kita percaya cahaya-cahaya yang sama seharusnya bisa membuat dunia ini menjadi tempat tinggal yang lebih baik.

Aku masih ingat pertama kali kau tanyakan berapa kali aku harus salat setiap harinya, berapa lama aku harus tidak makan dan minum dan kenapa itu hanya terjadi di hari senin dan kamis. Aku juga ingat binar yang muncul ketika kamu mulai ingin mencoba meminjam jilbabku. Kamu bilang jilbab-jilbab itu manis. Dan kamu selalu terheran-heran dengan warna-warni yang kumiliki, sepertinya kau mengira aku menyembunyikan pelangi dalam lemari bajuku.

Belasan minggu kemudian ketika air mancur tidak lagi menari-nari indah di Banpo Bridge, karena musim telah dingin. Kita sama-sama menerawang jendela untuk sebuah pertanyaan yang tidak pernah menguap. Kenapa dunia tidak pernah baik-baik saja? Meski saat itu puja-puji di laptopmu begitu nyaring ketika aku baru saja menutup Qur’an-ku. Meski hari sebelumnya kau ikut terbangun di sepertiga malam karena aku mengganggu tidur lelapmu dengan nyala lampu. Dan meski puluhan hari sebelumnya kau selalu memeriksa bungkus mie dan biskuitmu sebelum membaginya denganku. Dan kita tertunduk sedetik kemudian, menyadari bahwa tidak semua orang berdiri di pijakan yang kita pijak.

Bibelmu tentu tidak menyuruhmu untuk mematikan musik ketika aku mengangkat tangan dan memulai takbir. Tapi ada bisikan yang murni datang dari hati, karena kau menghargai dirimu sebagai manusia yang hidup dengan manusia. Aku tidak pernah keberatan jika harus menerimamu pulang dalam keadaan limbung, aku paham jika kau ingin menyelundupkan sebotol alkohol di laci tempat tidurmu. Tapi kau tidak melakukannya, karena kau lebih tahu mana yang membuatmu hidup, benar-benar hidup. Maka kau lebih memilih tersungkur menjelang tidur dengan doa-doa yang tidak aku mengerti. Dan ada pesan yang begitu kuat ketika kau melipat kedua tanganmu setiap malam, there is no you without Christ.

Kita tahu kita sama-sama mencintai doa kita, tapi pada waktu yang bersamaan kita tidak perlu memilah kasih untuk ditebar. Maka ketika hari terakhir kita melepas kebersamaan dan kamu terisak pada sebuah kalimat, “Nisa, you’re the best roommate I ever had”. Ada siluet kedamaian yang tiba-tiba merambat. Dan seketika cahaya dari timur enggan pergi, seperti lebih lama menghangat, berusaha menepis salju yang bersikeras turun deras. Ada peluk yang tulus di perpisahan, bukan untuk membayar rindu yang akan menimbun, tapi sebuah terima kasih sederhana karena pada akhirnya kita mengerti mencintai perbedaan itu seperti mengenyahkan garis nyata meski sebetulnya kita tidak pernah benar-benar kehilangan garis itu, karena kita lebih dulu menggambarnya dalam pikiran dan akal sehat.

Kini sudah lebih dari ratusan hari kita bukan lagi teman satu kamar yang selalu berbagi cerita tentang dunia di mata kita. Tapi jejak-jejak yang tertoreh membayang dan berubah menjadi sebuah perhelatan besar untuk alam pikiran ketika tiba-tiba sepercik beda terlalu banyak digunjingkan. Akankah kamu ikut tertawa jika hari ini aku bercerita tentang debat yang bergulir, antara manusia dengan manusia, yang mengaku berilmu dan beradab, tentang bagaimana harus menjaga sikap di ruang publik ketika sesamanya sedang berpuasa? Dan di bulan Ramadhan ini, kenyataan bahwa dunia tidak akan pernah baik-baik saja harus kita terima, kecuali kita menukarnya dengan sekotak ruangan yang pernah kita tinggali bersama, hanya untuk kita berdua. Tapi kita tahu itu tidak akan pernah terjadi. Dan dunia akan tetap seperti itu. Tapi, biarlah, aku hanya merindukan waktu sahur ketika kamu ikut terbangun, ketika dunia baik-baik saja.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama