Terima kasih Saudara B, karena Telah Mencintai Nenek

0
180
dilihat

Kemarin malam, adalah kali pertama aku melihatmu lagi setelah dua bulan lalu aku menyuguhkan bubur kacang ijo panas untukmu yang kebetulan mampir ke rumah kami. Tentu, ibuku yang menyuruh aku berhenti membaca dan keluar kamar, kalau tidak mana aku perhatian kau duduk di teras rumah, melepas lelah setelah dari sawah?

Kemarin malam masih aku dengar ayahku memanggilmu dengan sebutan Saudara B. Dari pintu kamar kulihat adikku mengalihkan perhatiannya dari sinetron murahan yang tayang saban prime time. Ia beranjak menyalami dua orang laki-laki tua. Engkau, Saudara B dan sahabatmu yang juga tua.

Aku masih punya sopan santun untuk keluar kamar untuk menyalamimu dan sahabat tua Saudara B. Tapi tidak cukup perhatian untuk mengarahkan kakiku ke dapur dan menyeduhkan dua gelas kopi kental. Hanya, sopan santun juga yang melambatkan kakiku untuk kembali mengurung diri dengan buku dan bantal-bantal, dan perintah ibuku jua yang membuat aku mengambil ceret untuk menjerang kopi.

“Tidak usah,” kata kakek tua sahabat Saudara B. “Kopi biar kami seduh sendiri”.

Mungkin aku tidak ramah atau kaku atau tidak pandai berbasa-basi. Aku hanya meringis dan berkata baiklah kemudian kembali masuk ke kamar.

Padahal teman hidup nenek dan temannya sedang duduk di ruang keluarga kami. Tapi memangnya, apa pula yang harus kukatakan?

Nenek meninggal hampir lima tahun lalu, dan selama itu pula Saudara B semakin jarang aku lihat. Sebelum nenek sakit keras, nenek dan Saudara B hampir setiap hari berkunjung ke rumah kami. Menjerang kopi sendiri dan duduk di teras. Membuka obrolan dengan ayah ibuku. Aku, kakakku, adikku ketika kebetulan ada di rumah, dengan sopan turut sesekali berbincang.

Begitu tabiat anak muda perkotaan, hanya merasa nyambung dengan obrolan sebayanya. Teman sekantor atau sekampus. Sementara adikku yang masih kecil belum begitu mengerti.

Mungkin cucu nenek yang sekolah di kota ini tidak ramah atau kaku atau tidak pandai berbasa basi. Mungkin saja anak-anak kota ini hanya bingung mau bicara apa. Setidaknya mereka sama-sama duduk di teras, dengan tindak-tanduk yang sopan.

Seperti tingkah laku rumit lainnya yang mencirikan orang kota, ketika teras rumah mereka minus dua orang tua yang menyeruput kopi kental, mereka merasa kehilangan sesuatu.

Yang sering mereka sebut dengan kangen.

 

Kangennya aku dan saudara-saudara urbanku tentu saja tidak sebesar kangenmu, wahai Saudara B, kepada nenekku yang katanya jelita di masa mudanya. Kami bisa jadi hanya kangen dengan kehadiran kalian di teras kami, kangen aroma kopi kental yang kalian jerang sendiri, kangen obrolan-obrolan sehari-hari yang kami turutkan dengan canggung.

Duh tunggu. Baru saja kusebut kalian. Kata ayah itu kata pengganti yang kurang sopan dikenakan untuk orang yang lebih tua. Sebagaimana kau, Saudara B dan nenekku tahu, aku dan saudara-saudaraku selalu berusaha menjaga sikap sopan santun.

Ya, Saudara B, kangenkah dirimu dengan nenekku?

Aku mulai perhatian dengan dugaan kangen ini ketika kau menyeruput kopi kental bersama sahabat tuamu di ruang keluarga kami.

 

Saudara B, kangenkah dirimu minum kopi bersama nenekku?

Aku hanya ingin tahu.

Wawasan urbanku membuat aku tidak mengimani pesan yang disampaikan sinetron murahan bahwa cinta bisa terjadi di antara siapa saja tanpa mengenal kelas sosial. Bahwa cinta bisa bertahan selamanya, sampai batu nisan ditancapkan konon cinta ngotot tak mau lekang-lekang.

Pola pikir ala-ala kelas menengah ngehek yang coba-coba rasional di segala hal termasuk cinta, masih aku miliki sampai kemarin malam aku mendengar kau dan sahabat tuamu mengucap Assalamualaikum di depan pintu rumah kami.

Melankoli. Aku teringat lagi antara kau, wahai Saudara B dan nenekku.

Ada yang berani bersedia menikah dengan nenek setelah kakek meninggal karena sakit paru-paru. Laki-laki itu bekerja di bawah kakek. Di kampung, keluarganya pun bukan siapa-siapa. Anggota keluarganya tidak ada yang bersekolah tinggi ke kota.

Tapi nenek setelah ditinggal kakek butuh teman, karena anak-anaknya pergi sekolah di kota. Laki-laki itu kau, Saudara B, bersedia menjadi teman nenek.

Ketika aku kecil, orangtuaku setiap hari Minggu mengajak aku berkunjung ke rumah nenek. Kukenal Saudara B sebagai kakek karena ia suami nenek. Hanya, aku yang masih kecil bingung mengapa aku dianjurkan untuk menyebutmu Saudara B alih-alih kakek?

Aku tahu jawabannya ketika mengerjakan PR menulis nama-nama anggota keluarga. Kutulis B sebagai kakekku. “Hapus, Saudara B bukan kakekmu. Kakekmu Kakek S, sudah meninggal”, ibuku yang memeriksa PRku tertawa.

Aku, orang tuaku, paman dan bibiku, saudara-saudaraku, dan sepupuku kompak memanggilmu dengan sebutan Saudara B. Sesekali nenek mengoreksi kami, “Panggil kakek!”.

Nenek semakin sering mengoreksi cara kami memanggilmu, dan lambat laun paman, bibi, sepupu-sepupuku, terkadang aku dan saudara-saudaraku jika kami sedang pulang kampong, dan ibuku. Hanya ayahku yang bertahan memanggilmu dengan sebutan Saudara B, bukannya bapak.

Bukan karena perbedaan kelas atau tidak beriman akan cinta di antara kau dan nenekku. Tapi karena perasaan cinta ayah yang besar pada Kakek S.

Setidaknya dengan hampir seluruh anggota keluarga kami menyebutmu Kakek, itu membuatmu merasa diterima kan?

Aku hanya ingin tahu.

Di hari-hari terakhir nenek, tidak pernah aku lupa kau berjalan kaki dari pangkalan angkot menuju rumah sakit, untuk kembali menjaga nenek. Aku, pamanku, dan sepupuku yang hari itu juga menjenguk nenek, melintas di jalan yang sama dan menawari tumpangan di mobil kami tapi kau tolak karena ingin jalan kaki saja. Kami maklum dan tidak repot membujuk.

Sampai nenek menjadi sulit bicara dan bergerak, dan mulai menunggu waktunya di rumah saja, kau mulai merasa asing. Temanmu jadi begitu sunyi, dan apa serta siapa yang menghuni rumah nenek perlahan melepaskan keterkaitannya denganmu. Kau asing.

Sampai nenek meninggalkan kami selamanya, kau juga meninggalkan rumah itu selama-lamanya. Ke tempat anak-anakmu yang kau tinggalkan ketika memutuskan untuk berteman dengan nenek.

Rasa benci tidak akan tahan lama kan? Kulihat kemarin kau memakai batik baru, yang tentu saja hadiah lebaran dari anak-anakmu.

Kuucapkan selamat berhari raya, empat hari raya atau bahkan lima hari raya yang kini kau habiskan bersama anak-anakmu. Terakhir, kuucapkan terimakasih Saudara B karena telah mencintai nenekku,

selamanya.

 

Salam hangat dari cucu tirimu yang kini percaya cinta selamanya itu ada.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama