Terimakasih Cinta Pertama, Karena Telah Pergi Tepat Waktu

0
179
dilihat

Sebelum saya memulai tulisan yang akan sangat dicurigai sebagai curhat ini, setidaknya saya ingin menyatakan satu hal: selayaknya penulis roman yang baik, saya akan menyerahkan pemaknaan tulisan ini kepada yang membaca. Apakah tulisan ini penggambaran fakta? Ataukah ini hanya sebuah fiksi? Atau mungkin ini adalah gabungan dari fakta dan fiksi? Biar anda yang menentukan.

***

Prolog

Saat ini saya berumur 21 tahun, 2 tahun lalu saya berumur 19 tahun, 5 tahun lalu saya berumur 16 tahun, dan 9 tahun lalu saya berumur 12 tahun. Kiranya titik-titik umur itulah titik yang berarti cukup signifikan bagi perjalanan hati saya, ah mungkin lebih tepatnya berarti signifikan bagi definisi makna “kamu” dalam hati saya.

Kamu, cinta pertama saya.

***

12 Tahun

Saya mengamatimu dari jauh. Sungguh aneh, bagaimana mungkin saya tidak mengetahui kamu sebelum hari ini. Bagaimana mungkin, kita yang sudah 2 tahun satu sekolah baru mengetahui satu sama lain ketika mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Tapi peduli setan, mengenalmu tidak akan mengubah apa-apa, kamu hanyalah satu dari sekian banyak orang baru yang saya kenal di awal masa remaja ini, masa pencarian jati diri.

Bagi saya, cinta pertama tidak datang melalui pandangan pertama.

***

16 Tahun

Saya mengamatimu dari jauh. Kalau saya tidak salah ingat, kamu adalah satu dari segelintir teman satu SMP saya yang masuk ke SMA ini. Saya ingat nama kamu, tapi saya lupa, apakah kita sudah sempat berkenalan sebelumnya?

Hampir setiap hari saya mengamatimu dari jauh, dari ujung koridor depan kelas saya ke ujung koridor depan kelasmu, tempatmu biasa menghabiskan waktu sembari memandangi lapangan olahraga yang terlihat luas dari lantai 3. Rasa-rasanya, saya mulai ingin mengenalmu lebih jauh. Rasa-rasanya, saya mulai terkena desir anomali yang belum pernah saya rasakan dalam hati sebelumnya. Mungkinkah kamu yang pertama mengubah hati?

***

19 Tahun

Saya mengamatimu dari jauh. Perlahan kamu mulai menjauh dari pagar rumahmu dan berjalan ke arah sini, ke kendaraan saya. Kamu membuka pintu, kemudian mengucapkan salam 3 huruf yang saya sambut dengan salam yang sama.

Kita terdiam cukup lama, tidak ada kata yang terucap hingga obrolan-obrolan receh mulai membaur dalam kabin. Malam itu, jelas sekali kita tidak bisa menutupi rasa canggung dihadapan satu sama lain. Maklum, ini pertama kalinya kita bertemu lagi setelah berbulan-bulan lamanya tak berkomunikasi.

Hari ini saya datang mengucapkan selamat ulang tahun yang ke 20 untuk kamu. Seperti tahun sebelumnya, saya beranikan diri untuk datang langsung ke rumahmu di hari yang spesial ini dengan membawa satu kotak hadiah berwarna Sepia dan beberapa tangkai bunga matahari. Bagi saya, hari ulang tahun adalah salah satu hari paling spesial bagi setiap orang, dan alangkah baiknya jika kita memberikan suatu kenangan yang spesial juga untuk orang yang berulang tahun itu. Tapi saya tahu dan selalu tahu, hari ini adalah hari yang menentukan bagi saya. Hari ini, saya coba menyatakan cinta kepadamu dengan cara yang tidak biasa.

In the words of flower, a sunflower means: I’ve always been watching you.

***

21 Tahun

Saya mengamatimu dari jauh, dari deretan pixel yang membentuk wajahmu dalam galeri ponsel saya. Beberapa hari yang lalu, untuk pertama kalinya saya mengabadikan rupamu secara langsung melalui ponsel. Dari ponsel itu pula, rangkaian pesan perpisahan mengalir. Ya, pagi ini kamu baru saja mengakhiri apa yang tidak pernah kita mulai.

Pagi ini saya berada dalam suatu interseksi perasaan yang sangat aneh, karena untuk pertama kalinya saya merasa hilang sekaligus lega. Pagi ini, saya mendapat jawaban inkrah akan satu pertanyaan yang tidak pernah hilang dalam diri saya sejak bertahun-tahun yang lalu. Pagi ini, untuk pertama kalinya saya merasakan suatu kedamaian yang telah lama hilang dalam hati saya.

Telah terlampau banyak pelajaran dan inspirasi yang saya dapatkan dari kamu selama masa pencarian jawaban ini. Sejak beberapa tahun yang lalu, kamu adalah guru terbaik saya dalam memaknai hidup. Sebuah pengalaman yang tidak akan bisa dibeli berapapun harganya.

Though you should know that, even your smallest movement could affect my entire life. That’s The Way of The World.

***

Epilog

Melalui tulisan ini saya ingin mengucapkan terimakasih karena kamu telah pergi di waktu yang tepat. Kamu pergi ketika perubahan besar dalam hidup saya mulai terjadi. Kamu pergi ketika saya harus merencanakan masa depan yang masih menjadi misteri. Kamu pergi setelah menjawab semua pertanyaan yang menggantung dalam diri.

Sejak pertama kali kamu mengguncang hati saya dulu, saya tahu kalau saya tidak akan pernah mampu untuk membencimu biar sedikit. Kamu akan selalu menjadi pengingat saya akan sebuah perjuangan, ada ataupun tidak ada wujudmu disamping saya. Maka dari itu, tidak ada ucapan lain yang pantas untuk saya berikan kepadamu selain “terima kasih”.

Sekarang waktunya kita untuk kembali mengejar tujuan hidup yang belum tercapai. Suatu hari nanti, 5, 10 atau 20 tahun lagi ketika kita telah mengikat janji sehidup semati dengan orang lain, mungkin garis takdir memaksa kita untuk bertemu lagi. Jika hari itu datang, saya hanya berharap semoga tidak ada sesal yang mengiringi.

For now, we are just strangers to each other like we used to be several years ago.

***

Sampai jumpa, stranger.

TULIS BALASAN

tuliskan komentarmu
silakan cantumkan nama